Minggu, Januari 31, 2010

JAVA JAZZ 2010 is coming to town!

Category: Entertainment

Bertahun-tahun yang lalu, di sebuah kota kecil, seorang gadis cilik sedang bermain boneka di lantai kamar orang tuanya. Mami dan Papi sedang menonton acara film malam hari di TV. RCTI. Tiba2 perhatian si bocah berpaling dari mainannya ke layar TV. "JAMZ presents... Earth Wind and Fire..." Cuplikan lagu September mengalun rancak. Si bocah terpaku.

"Suatu hari nanti aku akan tinggal di Jakarta, dan aku akan menghadiri acara2 musik live seperti itu."

Pada Java Jazz Festival yang pertama, tahun 2005, tekad itu menjadi kenyataan.

That little girl, off course, was me...


***

Senin, Januari 25, 2010

A Lift for Gloomy, Rainy Days

Category: Tips

Beberapa minggu terakhir ini hujan tiada hentinya mengguyur Jakarta. Tiap hari saya dibangunkan oleh langit kelabu dan udara nan dingin menggigit. Bener2 bikin saya pengen kembali meringkuk di bawah selimut dan tidur meringkel seperti anak kucing; meneruskan mimpi2 indah yang terputus oleh dering weker. Sampai akhirnya snooze button dari HP tua saya bernyanyi ribut, meningkatkan derajat kewarasan kembali ke dunia nyata. Gak bangun = gak kerja. Gak kerja = gak dapet gaji. Gak dapet gaji = gak punya duit. Gak punya duit = gak makan, gak bayar kos, gak shopping... Wah, wah, wah... Koq urusannya bakal jadi panjang yak.. Oke, oke, saya kudu bangun dan keluar berjuang mencari sesuap nasi. Coz' I've got bills to pay! @_@

Dalam situasi yang serba kelabu dan gloomy seperti ini, sungguh sulit untuk tetap mempertahankan sikap ceria dan penuh senyum. Gimana enggak, lha wong lihat abu2 di mana2. Muram. Suram. Dan mem-bo-san-kan.

Tapi saya tidak mau tinggal diam dan menunggu sampai matahari kembali bersinar dan dunia kembali penuh warna.

Karena itulah saya memutuskan untuk mengimbangi suasana yang kelabu dengan warna-warna cerah. Saya tak bisa mengubah cuaca di luar sana, tapi saya bisa menambah sentuhan manis di sana-sini supaya kamar saya kelihatan lumayan ceria.

Dan inilah beberapa contoh "hasil karya" saya... ^__^ Saya sengaja memakai banyak warna merah, tema oriental dan koleksi benda-benda yang "berpasangan" karena sekarang sudah lumayan dekat Valentine's day and juga Xincia alias Imlek. Harap maklum kalau kualitas fotonya kurang bagus yaa...


Saya membuat "table centerpiece" untuk meja di kamar saya. Saya menggunakan kotak merah bekas - untung belum saya buang - dilapisi potongan kain warna pink pucat bermotif bunga-bunga persik pink cerah sebagai alasnya. Percaya tidak kalau kain pink dari bahan satin yang saya pakai adalah wadah tisu dari kain yang sudah jebol? Bagian bawahnya yang usang saya lipat ke dalam hingga tidak kelihatan dari atas. Bodo amat, saya tidak mau mengeluarkan uang untuk pajangan yang paling akan saya pakai sebulanan, sesudah itu pasti saya sudah bosan dan kepingin ganti tema dekor kamar, hihihi...

Di atasnya saya mengatur koleksi beberapa benda cantik yang saya punya: kristal teratai warna pink, kristal apel pink dan biru yang saya bawa dari China. Kristal berbentuk sepasang merpati merah-hijau yang saya bawa dari rumah saya di kampung. Bunga kecil dalam pot kristal suvenir kondangan yang saya cat ulang dengan spidol keemasan dan cat kuku pink transparan supaya kelihatan seperti baru lagi. Kura2 dan gajah mungil dari giok hijau yang saya beli di Chinatown di Sydney. Bekas botol parfum mungil gratisan yang sudah kosong berwarna pink-lavender-turquoise. Sepasang sepatu kaca mungil berhias pita pink dan baby blue serta satu set peralatan minum teh mini dari porselen putih-biru yang saya beli di toko Great value. Itu lhoooo toko yang menjual semua barangnya seharga 5000-an. Murah meriah!

Wadah tisu-nya dari seorang teman yang berbaik hati membawakan oleh2 dari Hongkong. Patung kura2 porselen saya beli di Pekanbaru. Lilin wangi merah-pink dari Vivere, hadiah ulang tahun saya tahun lalu. Cupu giok hijau bertulang tembaga oleh2 nyokap dari China.

Pendeknya, saya berusaha memanfaatkan apa yang saya sudah punya, tanpa harus membeli barang2 baru yang akan membuat sesak kamar saya dan menambah sampah di bumi tercinta ini. (Dan menguras dompet tentunya, hehehe...)


Ini adalah another centerpiece yang saya tata di sebelah TV. Seperangkat alat minum teh imut dalam kotak merah, terbuat dari porselen warna-warni. Tak kelihatan di foto, tapi benda-benda mini itu masing2 berlukiskan beberapa wanita bergaun indah yang sedang minum teh di kebun. Cantik sekali. Saya beli dari seorang pedagang kaki lima di Beijing. Percaya tidak kalau harganya hanya 10,000 perak? Sepasang telur porselen biru putih dari Medan. Pajangan dari sepotong ubin yang dilukis pemandangan danau, kapal dan Gunung Fuji. Tiga bentuk "uang2an" warna emas yang saya beli di Mangga Dua. Warna-warninya yang cerah seakan "bersorak" di dalam kamar saya, sekalipun di luar mendung atau hujan.

Sebentuk bantal berbentuk hati warna merah dengan sulaman "I Love You" dari benang pink menambah semarak kursi sudut saya, walaupun sang bantal membuat saya teringat cowo penipu yang memberikannya, hehehe...

Dan terakhir, saya mengatur ulang lemari pakaian saya. Rak-raknya saya lapis dengan kertas kado warna-warni. Ada yang bergambar Hello Kitty, ada yang bergambar bunga2an, dll. Saya sampai ter senyum2 sendiri kegirangan melihatnya. Ternyata barang sehari-hari bila diatur dengan rapi juga manis dipandang mata. Lemari pakaian saya jadi terlipat apik, pakaian2 rapi tertata dan diatur sesuai urutan warna. Kertas alasnya yang berwarna-warni tampak bagaikan background sebuah lukisan. Koleksi scented candle saya menambah keindahan dan membuat koleksi pakaian saya senantiasa berbau wangi. Hmmm...
Ini namanya decorate without decorating!
Dengan tulisan ini saya mengajak teman2 semua - terutama yang cewe2 nih - mari memberikan nuansa ceria di rumah, meja kantor, atau kamar dalam cuaca yang gloomy ini. Pasti teman2 akan merasakan kesenangan tersendiri.
Though it's gloomy outside, doesn't mean it has to be gloomy inside!
***

Sabtu, Januari 09, 2010

My Car

Category: Daily Life

Today let me tell you about my car... ^__^


Mobil saya adalah salah satu mobil kecil mungil yang sering disebut city car.


Itu lhoooo... mobil2 mini dengan warna2 permen nan imut seperti silver, pink, lavender dengan merk2 Karimun, Hyundai AtoZ, Cherry QQ, Ceria, dll.

Teman2 sering ngeledekin saya mobil saya yang kecil mungil dan "malang" ini.

"Orangnya jangkung koq mobilnya kecil amat."
"Sok imut banget sih mobilnya, biar gampang nyelip2 ya..."
"Idih, udah gede mobilnya masih sok ngimut..."
"Gak mampu beli mobil yang bagusan dikit lo... Posisi udah manager mobil murahan gitu..."
"Barbiiieeeee...."

Ya iyalah. Bukan cuman mobil saya kecil, mungil dan imut. Di kaca belakang berjejer boneka2 beraneka warna dan bentuk mulai dari beruang2an, kelinci dan kura2. Jok nya warna abu2 muda. Gantungan kuncinya pink dan silver dengan logo "Princess".


Sok ngimut? Embeeeeeeerrrr...

Murah? Iya lah... Lha wong saya beli-nya second. Saya ogah beli mobil baru. Pertama, saya gak hobi mobil. Cewe mah hobinya baju, bukan mobil. Kedua, otak finance saya tahu bahwa pada umumnya, mobil, tidak seperti logam mulia atau properti, bukanlah investasi yang bagus. Begitu dibeli, nilainya langsung turun. Makanya saya gak "rela" beli mobil baru. Kecuali kalau duit saya sudah omber banget nget nget. Saya membeli mobil bekas seorang noni2 eksekutif, waktu itu umurnya sudah 4 tahun. Umur mobilnya maksud saya, bukan umur noni2nya. Mengapa 4 tahun? Karena biasanya sesudah umur 4 tahun harga mobil tidak turun terlalu banyak. Finance sekaleeeee...


But let me tell you something. I L-O-V-E that little car! I love the shape, the cuteness, the reliability and the durability. Mesinnya bandel. Bensinnya ngirit. Cukup diisi Premium doang. Low maintenance. Dan penampilannya yang cewe banget. Plus, alasan utamanya adalah: itu adalah mobil pertama yang saya beli sepenuhnya pake duit saya sendiri, cash. Mobil pertama saya dulu Honda Accord warna silver yang sangat saya sukai. Dan kalau mampu suatu saat kelak saya ingin naik Honda Accord lagi. Tapi dulu itu kan dibeliin ortu. Kalau yang ini murni hasil jerih payah saya, biarpun gak sekelas Accord.


Saya merawatnya baik2. Ganti oli dengan teratur. Tune up. Isi angin. Urusan cuci mobil saya pasrahkan pada penjaga kos yang saya kasih duit tiap bulan. Se sayang2nya saya sama si mobil, tetap saja saya ogah nyuci mobil sendiri seperti yang biasa saya lakukan dulu di Amrik.


Dan hari ini mobil saya keliatan ekstra cantik. Kenapa? Karena baru saja dipoles. Kinclong! Yang bikin saya kegirangan, saya berhasil menemukan seorang tukang poles yang mau datang ke kos dan mengerjakan pemolesan dengan biaya relatif murah: bodi, kaca, interior dan mesin cukup 300 ribu rupiah saja. Kalau di bengkel pasti sekitar 400 ribuan, jadi saya ngirit 100 ribu.


Waktu ngeliat si mobil sehabis dipoles, dengan bodi-nya yang jadi mengkilap, saya rasanya seneeeeng banget. Tiffany sudah cantik.


Tiffany? Yap, itulah nama yang saya berikan buat si mobil.


And I looooo-v-e that tiny, winny, cuty, little car of mine!

***

Minggu, Januari 03, 2010

Goodbye 2009... Hel-looo 2010...


Category: Feelings & Thoughts

Lama tidak nge-blog, tau2 sudah tahun 2010. Tahun 2009 adalah tahun yang luar biasa warna-warni buat saya. Gimana enggak? Dalam tempo 365 hari ada banyaaaak sekali kejadian...

Kena PHK

Nasib... nasib... Biarpun saya sering mengomel tentang kerjaan saya, ngedumel saat kudu bangun pagi untuk ngantor setelah hura2 semalam suntuk, pengen nabokin rekan kerja yang nyebelin banget; tapi toh ternyata jadi pengangguran lebih enggak enak lagi. Tiap pagi bangun bingung sendiri enaknya mau ngapain. Ngajakin teman jalan, mereka pada sibuk kerja. Ngobrol sama temen2 jadi enggak pede karena mereka semua dengan lincahnya bisa bercerita tentang dinamika kantor beserta pernak-perniknya, sedangkan saya cuma bisa pasang senyum kaku bin palsu sambil dalam hati berdoa semoga topik cepat berganti jadi gosip bintang sinetron ato apalah sehingga saya tidak tambah frustrasi.

Kehilangan teman
PHK ternyata ampuh untuk menyeleksi siapa teman beneran, siapa teman gadungan dan siapa teman butuh doang. Istilah ini saya pinjam dari seorang rekan yang juga kena PHK dan mengalami nasib sama sama saya. Beberapa teman sekantornya yang tadinya akrab mendadak jadi sok sibuk dan menghilang tanpa berita. Lebih sakit hati lagi, 3 bulan kemudian ketika teman saya ini mendapat kerjaan baru yang jauuuuh lebih baik daripada kerjaan lama, "teman2" sialan itu pada mendadak nongol dengan sok akrab dan tanpa tahu malu minta nitip2 CV. "Gue jawab dengan manisnya, oooo silakan email aja resume kalian. Terus gue delete semuanya. Dasar ular beludak bermuka dua!" kisahnya dengan emosi. Yah, paling enggak teman2 yang ada di sekitar saya sekarang adalah teman2 beneran, dalam susah dan senang.

Belajar ngirit
Kena PHK tentu saja jadi tidak ada pemasukan. Dengan sendirinya saya musti mengerem hasrat belanja saya yang kadang gila2an. Mengurangi jalan ke mal. No more clubbing. Acara makan2 di resto2 mahal di Kemang ganti makan2 di fast food atau resto murah meriah. Tapi bagus juga. Lemari baju saya jadi lega karena saya punya waktu untuk menyeleksi baju2 yang tak terpakai dan tak beli baju baru sama sekali.

Belajar memperhatikan orang lain
Justru di saat susah saya jadi lebih berempati pada orang lain. Status pengangguran membuat saya sempat meluangkan waktu untuk mengorganisir kegiatan amal. Biasanya saya cuma nitip duit karena sok sibuk dengan kerjaan dan acara hura2.

Pacaran dengan cowo buaya sialan
Status pengangguran rupanya membuat mata hati saya jadi juling. Antara bulan September-November saya sempat pacaran kilat dengan seorang cowo ganteng, tajir, keren yang ternyata sudah punya cewe! Sedihnyaaa... Udah pengangguran, dijadiin ban serep pula! Untungnya cepat ketahuan sehingga sebelum terlambat saya bisa tendang jauh2 tuh cowo! Bodo amat dia naek BMW 750 lebih. Harga diri dan moral nilainya lebih dari itu!

Kenalan dengan Head Hunter
Status pencari kerja aktif membuat radar saya jadi lebih tajam terhadap kehadiran head hunter. Walaupun akhirnya saya mendapatkan kerja dari network, bukan dari head hunter, saya sangat gembira berkenalan dengan banyak head hunter selama satu tahun terakhir ini. Malah beberapa di antaranya jadi teman saya, bukan sebatas professional network.

Penyakitan
Tahun 2009 saya mengalami berbagai penyakit yang aneh2. Bukan penyakit berbahaya sih... tapi menjengkelkan sekali. Coba bayangkan, masa cewe sebesar saya sakit belekan, biduran, mimisan... Semasa kecil aja saya gak pernah yang aneh2 kayak gitu... Karena saya tidak lagi ter-cover asuransi kantor, terpaksalah saya mencari obat2 tradisional atau generik.

Main petak umpet dengan ortu
Untuk pertama kali dalam hidup saya berbohong habis2an sama ortu. Mereka gak tau kalo anaknya dipecat dan udah ber bulan2 nganggur. Biasanya saya sangat terbuka dengan mereka, tapi kali ini saya memutuskan untuk tutup mulut rapat2. This is my problem. Not theirs. Mereka sudah membesarkan saya. Biarlah sekarang mereka menikmati hari tua dengan tenang.

AKHIRNYA... dapet kerjaan baru!!! ^___^
Setelah pencarian selama 9 bulan akhirnya lahirlah si bayi yang bernama "Kerjaan Baru". Horeeee!!! Saya akan mulai gawe di kantor baru besok pagi. Doakan yah! Sebenarnya saya sudah beberapa kali mendapat tawaran kerjaan lain, tapi saya kurang sreg. Entah karena lokasinya yang nun jauh di Tangerang - saya ogah pindah dari lokasi saya sekarang di Sudirman - , gajinya kurang oke, atau insting saya mengatakan calon bos saya bukan tipe bos yang bakal cocok. Ho!

Jangan salah. Saya pernah mendengar bahwa pasangan hidup mempengaruhi 90% kebahagiaan di rumah, dan bos mempengaruhi 90% kebahagiaan di kantor. Padahal tiap hari saya bakal menghabiskan 8 jam atau lebih di kantor. Dan satu2nya kesempatan untuk memilih bos adalah pada saat interview! Sesudah mulai kerja kita tidak bisa lagi memilih bos.

Overall, 2009 hase been an amazing year. I've learned a lot, lost a lot and gained a lot.

So, thank you 2009! Welcome 2010!

***

Senin, Agustus 17, 2009

17-an Dari Tahun ke Tahun


Category: Celebration

Hari ini saya napak tilas tentang apa yang saya ingat dari acara 17-an sejak saya masih kecil sampai sekarang. Saya hanya menulis yang enteng2 saja, karena satu jam lagi saya akan berangkat untuk acara reunian teman2 SMA, hingga tak sempat menulis tentang renungan yang serius, hehehe...


17-an Di Masa Kecil, Di Kampung Halaman

  • Upacara bendera di sekolahan. Pake seragam lengkap dengan topi, dasi, sepatu item, kaos kaki putih, kalau tak mau disetrap.
  • Lagu Indonesia Raya, yang sesudah lulus SMA jadi jarang dinyanyiin karena enggak pernah ikut upacara lagi.

  • Gapura2 di depan kampung jadi meriah, merah putih cemerlang dengan cat baru, menggantikan cat lama yang sudah rada kusam dari tahun lalu.

  • Pelbagai macam lomba yang diadakan di sekolah, mulai dari tarik tambang, lomba lari, lomba masak, balap karung, sampai lomba favorit saya: balap bakiak. Favorit saya sebagai penonton maksudnya, bukan sebagai pemain. Lucu sekali menonton 6 pemain memakai satu bakiak raksasa dan harus bergerak serentak, seirama, kalau tidak mau jadi berantakan dan jatuh tumpang tindih. Permainan ini, biarpun kesannya lucu, sebenarnya membutuhkan teamwork dan kekompakan yang tinggi. Tidak ada yang boleh egois atau semau gue, ambil langkah suka2, karena kalau satu jatuh, semuanya ikut gedubrakan. Masih terngiang di telinga saya sorakan pemain yang penuh semangat: "Satu... dua! Satu... dua! Rawe-rawe rantas... malang2 putung!"

  • Nasi opor ayam. Entah kenapa, setiap tanggal 17-an, Mama saya selalu menghidangkan menu nasi opor ayam lengkap dengan telur dan suwiran daging sebagai hidangan utama untuk seluruh keluarga. Katanya biar makin terasa Indonesianya. Sampai agak besar, saya masih mengira bahwa menu nasi opor ayam identik dengan hari kemerdekaan.

17-an Di Negeri Orang

  • Ikut acara 17-an di KBRI terdekat bersama sesama teman2 dari Indo. Biasanya acara bazaar makanan2 khas Indonesia. Ini merupakan acara yang di tunggu2 setiap tahun karena anak2 Indo di Amrik jarang bisa makan masakan Indonesia sekomplet saat acara 17-an. Tak heran kita semua langsung kalap! Empek2, kerupuk udang, nasi liwet, rendang, tahu-tempe, sate, semua disikat. Maklum, makanan yang di Indonesia sangat biasa seperti tempe, di Amerika bagi kami saat itu merupakan kemewahan karena di supermarket dijual di rak "exotic food" dan harganya bisa mencapai 3 dollar 50 cent untuk sepotong kecil saja! O iya, karena banyak juga teman bule yang kita ajak datang ke bazaar, semua menu ditulis dalam 2 bahasa: Inggris dan Indonesia. Lucunya, minuman soft drink diterjemahkan menjadi minuman lembut, hehehe...

  • Kesempatan pamer makanan dan budaya Indonesia pada teman2 dari negara2 lain. Bukan hanya teman2 bule Amerika, tetapi juga international students yang lain. Kami biasanya mengadakan acara makan2 kecil2an untuk teman2 kami di apartemen dengan menghidangkan makanan Indonesia. Menu wajib yang merupakan favorit para tamu biasanya adalah sate ayam dengan lontong. Teman2 kami dengan logat bahas Inggris yang berasal dari 5 benua itu bergantian memuji kelezatan makanan Indonesia sekalian menanyakan resep bumbu kacang dan sambal yang sengaja dibikin tidak terlalu pedas.

  • Dalam skala yang lebih besar kami juga bergabung di kota besar terdekat untuk mengadakan Indonesian Lunch di gereja setempat. Lagi2 kesempatan untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada teman2 kami di negeri Paman Sam. Anak2 menyumbang makanan, tenaga, uang maupun acara sesuai dengan kemampuannya. Ada yang mempersembahkan tari2an daerah, menyanyikan lagu Bengawan Solo dengan iringan keyboard, membantu panitia dekorasi dengan meminjamkan boneka wayang, taplak batik, dan hiasan2 bernuansa Indonesia koleksinya untuk menghias meja dan ruangan.

  • Yang paling menyenangkan dari merayakan 17-an di negeri orang adalah, karena sama2 jauh dari negeri dan keluarga, dan merasa sama2 orang Indonesia yang sedang merantau di negeri orang, kami sangat kompak. Tidak ada yang mempermasalahkan suku, agama, ras, golongan ekonomi, dll, dll. Semuanya sama2 orang Indonesia. Semuanya ingin menunjukkan sisi terbaik negeri kita kepada orang2 dari negara tempat kami tinggal saat itu.

17-an Sekarang

  • Pastinya tanggal merah sehingga bisa jalan bareng teman2, hehehe...

  • Rame2 memasang gambar bendera Merah Putih di Facebook.

  • Pagi2 saya senyum2 sendiri melihat theme merah-putih di Google. Dalam hati saya berdoa semoga Indonesia semakin diperhitungkan di kancah peta dunia, bukan hanya terkenal sebagai negeri tukang korupsi doang.

  • Doa pagi, mendoakan negeri saya ini, beserta semua rakyatnya, dan para pemimpinnya. Semoga hati nurani kita semua semakin kuat, semakin keras teriaknya, sehingga kita tak bisa lagi berlagak tidak mendengarnya. Tuhan selalu membimbing kita, tapi masalah mau mendengarkan atau mbalelo sekarep udel adalah pilihan kita. Ini juga berlaku buat para teroris yang hobi mencuci otak orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri. Semoga makin banyak orang yang nyadar sehingga tidak mempan lagi dibohongi mereka2 ini.

Merdeka!

***

Minggu, Agustus 09, 2009

Balada Korban PHK

Category: Daily Life

Gambar ini saya comot dari www.stickgal.blogspot.com, lalu saya edit sedikit supaya sesuai dengan keadaan saya 6 bulan yang lalu.

Hari Jumat, 14 Februari 2009 merupakan The Valentine's Day Massacre di (eks) perusahaan tempat saya gawe. Lebih dari 50 pegawai di-PHK. Karena saya sudah kerja di sana cukup lama, pesangon yang saya terima lumayan. Kalau saya ngirit dan tidak mengeluarkan uang untuk yang aneh2, cukup buat saya bertahan hidup selama setahun. Lagian berapa banyak sih duit yang diperlukan seorang cewe single yang tinggal sendiri? Paling buat bayar kos, makan, dan hura2 dikit. Hal2 lain yang menyenangkan tapi tidak krusial seperti shopping dan konco2nya untuk sementara bisa ditunda dulu karena tanpa itu pun saya masih bisa hidup.

Saat ini saya sudah bisa menarik napas sedikit lega karena krisis ekonomi tampaknya sudah mulai berlalu. Sejak sebulan ini saya sudah mulai banyak dipanggil interview. Biarpun belum ada hasilnya, saya optimis bahwa dalam 1-2 bulan mendatang saya sudah bisa gawe lagi. (Amin!) Minggu lalu saja saya interview 4 kali, dan untuk minggu depan sudah ada 3 panggilan interview. Batin otak dan hati saya yang sudah mulai ngarep dot com dan ngayal dot com, masa dari sekian banyak interview gak ada satu pun yang gol! Pasti ada satuuuuu aja yang cocok buat saya.

Sebenarnya pada bulan Juni kemaren saya dapat 1 offer, tapi setelah me nimbang2, akhirnya saya tolak. Bukannya jual mahal, mana mungkin orang dengan status pengangguran kayak saya bisa sok jual mahal segala, tapi company yang kasih offer letaknya nun jauh di luar Jakarta sono. Gajinya juga jauh kurang dari yang saya terima dulu. Lebih baik saya bersabar dan mencari yang lebih baik. Toh pesangon saya masih cukup untuk bertahan sampai akhir tahun. Kalau sampai bulan Desember masih belum ada titik cerah, nah, baru deh, saya banting harga. Kerja apa pun yang halal boleh deh, asal cukup buat hidup tanpa saya kudu P3K: Pelan-Pelan Porotin Keluarga, hehehe... *amit-amit-amit!!!*

Hmmmm... kalau dipikir-pikir, jadi korban PHK memang kelihatannya ngenes, tetapi dalam kasus saya juga banyak enaknya, lho! Nanti deh kapan2 saya tulis apa enaknya dan apa tidak enaknya. Sekarang saya mau googling dulu, riset kecil2an sebagai persiapan interview besok pagi. Seperti wejangan salah satu guru SMA saya dulu: "Berjoe-ang nak! Berjoe-ang!"

Wish me luck yah!

***

Rabu, Juli 29, 2009

Lihat2 Lukisan Yuk...

Category: Feeling & Thoughts

Saya ini pecinta lukisan. Terutama lukisan beraliran naturalisme. Jangan salah, bukan berarti saya mengerti banyak tentang lukisan, ahli lukisan, penilai lukisan, apalagi kolektor lukisan! Sebagai anak kos, enggak mungkin lah di kamar secuil saya nekad koleksi lukisan. (Duit buat beli lukisannya juga tak ada, hehehe) Saya hanya senang melihat dan menikmati lukisan dengan mata seorang manusia awam yang mengagumi dan menghargai keindahan.

Di Indo, museum lukisan favorit saya adalah Museum Neka, di Bali. Tapi kali ini saya ingin menulis tentang lukisan favorit saya di National Gallery of Art, Washington DC, Amerika Serikat, yang berjudul The Voyage of Life. Kebetulan waktu saya mengaduk-aduk file lama di komputer, saya menemukan foto2 yang saya buat waktu berkunjung ke sana beberapa tahun yang lalu. Sayangnya waktu itu saya lupa mencatat nama pelukisnya. :( Mungkin karena terlalu kesengsem lihat sekian banyak lukisan bagus plus kalap jeprat jepret ke sana ke mari.

The Voyage of Life terdiri dari 4 bagian:

1. BEGINNING (PADA AWALNYA)

Pelukis menggambarkan suasana cerah pagi hari saat fajar menyingsing. Seorang bayi mungil duduk dalam perahu yang melaju perlahan meninggalkan gua (yang mungkin melambangkan rahim ibunda) dengan disertai seorang malaikat. Sungai kehidupan digambarkan kecil dan tenang, dengan air yang bening jernih bak cermin. Sang malaikat mengulurkan tangan seolah-olah memberi berkat dan juga menunjukkan jalan. Di foto mungkin kurang kelihatan, tapi di lukisan aslinya diperlihatkan si bayi tampak ceria dan melihat dunia yang baru dimasukinya dengan riang. Semua terasa indah dan menarik baginya.

Ketika kita masih kanak-kanak, panca indera kita masih teramat aktif. Kita melihat dunia ini dengan penuh rasa kagum dan ingin tahu. Kita terpesona oleh warna cerah sebuah mainan baru, pemandangan yang berwarni-warni seperti sirkus atau dufan. Kita berlari-lari di antara angin semilir dan pakaian yang dijemur melambai-lambai di terang matahari, berhenti sejenak untuk mencium bau wangi dari seprei dan taplak bersih yang baru dicuci. Suara denting lonceng penjual es keliling membuat hati kita terlonjak dengan penuh suka cita. Indera kita dipenuhi oleh detil-detil yang menyenangkan, ritual-ritual kecil tapi berarti, benda-benda beraneka warna. Dunia serasa penuh dengan keajaiban yang menakjubkan dan permainan yang menarik.

When we were children, we noticed everything.




2. YOUTH (MASA MUDA)

Bagian kedua menggambarkan bayi tadi sudah tumbuh menjadi seorang pemuda. Ia tidak lagi mau duduk tenang, melainkan setengah berdiri sambil menunjuk ke depan, menunjukkan ketidaksabaran dan keinginan untuk "cepat sampai". Di angkasa si pemuda melihat fatamorgana, sebuah istana yang megah di atas awan. Itulah yang disebut dengan mengejar impian kosong, alias building castle in the air. Perhatikan bagaimana sungai kehidupan digambarkan sudah mulai melebar dan tidak lagi sebening kaca. Bayangan yang tampak di permukaan mulai terdistorsi, tidak persis lagi seperti aslinya. Dan lihat, sang malaikat pelindung tidak ada lagi di dalam perahu, melainkan di luar, di tepian. Gerakannya seolah-olah mencoba memberikan perlindungan dan petunjuk, namun si pemuda yang sudah demikian buta dengan ambisi menggapai "istana di awan" tidak mau mendengarkan.

Saat mulai beranjak dewasa, indera kita mulai tumpul. Kita tidak lagi memperhatikan segala sesuatu. Semua sudah dianggap biasa. Seen it, been there, done that. Kita senantiasa tergesa-gesa, terburu-buru menyelesaikan tugas-tugas kita, untuk kemudian lekas-lekas beralih melakukan hal lain. Sibuk, sibuk, sibuk. Usia muda dan vitalitas seringkali membuat kita sombong dan terlena, seakan-akan kita bakal hidup abadi, kita ingin meraih segalanya.

Keserakahan dan ambisi membuat jiwa dan badan lelah. Ditambah lagi kita bosan karena menganggap dunia dan hidup seperti apa adanya sudah tidak begitu menarik lagi. Karena itulah kita menciptakan big-bang entertainment untuk membuat adrenalin mengalir, bahkan untuk memanipulasi pikiran kita kepada kenikmatan semu. Makin mahal dan makin heboh, justru lebih baik. Karena itulah bisnis marketing, entertainment, dan luxury goods bisa bertumbuh menjadi raksasa milyaran dollar. TV, iklan, internet, Hollywood, mal. Mereka senantiasa bersaing satu dengan yang lain untuk menangkap dan mencengkeram perhatian kita, indera kita yang sudah tumpul karena terus menerus dibombardir dengan pesan-pesan duniawi dan pelbagai aktivitas, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun.

Lah, apa salahnya bersenang-senang? Gak ada. Saya juga senang bersenang-senang. Dan segala macam hiburan yang saya sebut di atas bisa menjadi sumber kreatifitas dan penghidupan banyak orang. Tapi kadang saya lupa, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.
Dan, o iya, kapan ya terakhir kali saya beneran melihat matahari terbenam yang asli, yang ciptaan Tuhan, bukan foto2 matahari terbenam di internet yang sudah direkayasa? :( Saya terpesona lihat interior cantik di Grand Indo, sedangkan bulan sabit yang tak ada satu manusia pun bisa menciptakan, sudah gak saya perhatikan lagi.

3. REALITY (KENYATAAN HIDUP)

Di bagian ini digambarkan pemuda tadi sudah menjadi laki-laki dewasa, full-fledged adult. Dan saat itulah kenyataan dan badai kehidupan yang sebenarnya mulai datang menerpa. Langit yang tidak lagi biru ceria. Matahari yang tidak selalu bersinar cerah. Sungai yang tadinya adem ayem berubah menjadi lebar dan ganas, seakan-akan ingin menggulingkan perahu atau memporakporandakannya pada batu-batu tajam. Dan sang malaikat? Di manakah dia? Ah, dia tak nampak lagi. Mungkin karena di masa muda sang malaikat dicuekin melulu sehingga akhirnya dia ngambeg dan pergi? Atau... mungkinkah sebenarnya malaikat tetap berada di sisi manusia, membimbing dan melindungi seperti yang diperintahkan oleh Tuhan, namun manusia sendiri yang kelewat bebal sehingga tidak melihatnya?
Pada bagian ini pelukis menggambarkan sang manusia tidak lagi berdiri sombong atau tergesa-gesa, melainkan berlutut dan berdoa. Ia mulai mengerti bahwa kekuatannya sendiri tidak ada artinya. Ia berada dalam, dan membutuhkan suatu kuasa yang jauh lebih besar daripadanya. Sesuatu yang terlalu agung dan menakjubkan untuk bisa dia pahami, tetapi hanya bisa dia percaya. Ia mulai sadar bahwa biarpun ia harus terus berusaha mengendalikan perahu kehidupannya, ia juga harus belajar untuk berserah diri kepada Yang Di Atas.

Saya pernah membaca: "Be careful what you ask for, you might as well get it." Hati-hati dengan apa yang kamu minta, karena kemungkinan kamu akan benar-benar mendapatkannya. Berarti kalau saya memohon iman, kemungkinan saya akan menerima kegelapan; dan kalau saya memohon harapan, saya akan mengalami keputusasaan. Lho, koq? Ya, karena berdasarkan pengalaman saya, iman tumbuh dalam kegelapan dan harapan tumbuh dalam keputusasaan. Nah lo!


4. THE END (AKHIR CERITA)

Eeee... sang malaikat nongol lagi! Halo, malaikat. Dan gambar apa ini? Lihatlah... Si manusia sudah menjadi orang tua. Dan posisinya sama seperti waktu bayi, duduk di perahu. Sungai kehidupan tadi sudah berubah menjadi samudra luas. Hari sudah petang dan langitpun sudah gelap. Matahari tak tampak lagi. Pelukis dengan sangat indahnya menggambarkan cahaya mulia yang bersinar terang menembus kegelapan malam, menyinari perahu dan si orang tua, seakan-akan menjemput, memberi penerangan jalan, sekaligus mengucapkan selamat datang. Dan sang malaikat ternyata tak pernah pergi ke mana-mana. Di saat terakhir pun, sama seperti pada awal kehidupan, ia tetap mendampingi manusia, memberikan perlindungan, menunjukkan jalan. Tangannya menunjuk kepada terang, seakan-akan berkata: "Lihatlah! Engkau telah dijemput. Pekerjaanmu sudah selesai. Liburan panjang telah tiba. Di sana telah tersedia tempat bagimu. Jangan takut! Ini bukanlah benar-benar akhir. Ini hanya awal sesuatu yang baru, yang jauh lebih baik."

Ngnggng... saya tidak bisa berkomentar apa2 tentang lukisan yang satu ini, karena saya belum pernah menjadi tua, hehehe. Tetapi saya sangat berharap bahwa apabila tiba saatnya nanti saya dipanggil kembali untuk lapor kepada Sang Pencipta, Dia akan berkata: "Well done, good and faithful servant."
Isaiah 55:12-13

12 "Yes, in joy you shall depart'
in peace you shall be brough back;

Mountains dan hills shall break out in song before you,
and all the trees of the countryside shall clap their hands.

13 In place of the thornbush, the cypress shall grow,
instead of nettles, the myrtle.

This shall be to the LORD's renown,
an everlasting imperishable sign."

***
Ini adalah foto2 lain yang saya buat di Washington DC. Waktu itu bulan April, musim cherry blossom atau saat pohon-pohon ceri mulai berbunga. Kabar2nya pohon-pohon ceri tersebut merupakan hadiah dari pemerintah Jepang kepada pemerintah Amerika Serikat sebelum pecah Perang Dunia II.
Ini foto anak2 high school yang lagi "ngamen" di taman. Tidak, mereka tidak mencari uang, melainkan mencari penonton untuk pertunjukan acapella mereka. Kelihatannya mereka anak2 SMA swasta, karena anak2 SMA negeri di Amrik tidak pake seragam.


Pink cherry blossom di National Park. Walaupun saya belum pernah melihat yang di Jepang, saya sangat bersyukur bisa melihat yang di DC. Cherry Blossom Festival merupakan tradisi rakyat bagi penghuni ibu kota Amerika, apalagi peristiwa pohon ceri berbunga ini hanya kejadian sekali dalam setahun dan waktunya singkat, hanya 1-2 minggu. Selewat itu bunga2nya mulai rontok.

Di bawah ini foto pink cherry blossom dilihat dari jauh, rimbun mengitari National Monument, Monas-nya Amerika.

Pasti tau donk, ini apaan... Yap, The White House alias Gedung Putih, istana kepresidenan Amerika Serikat. Gak, saya gak masuk ke dalamnya, cuma mengambil foto dari sela-sela pagar luarnya saja. Btw, saya kepingin sekali ikut tur keliling Istana Negara di Jakarta, secara katanya sekarang Istana Negara sudah dibuka untuk umum setiap hari Sabtu dan Minggu. Kapan ke sana ya enaknya?

Yang terakhir ini adalah Washington DC National Cathedral. Saya cukup beruntung sempat ikut misa Minggu Palem di bangunan gereja gaya Gothic yang segede bagong ini. Bangunannya rada mirip Gereja Katedral Jakarta ya? Cuma bedanya museum di National Cathedral ini juga rame dikunjungi orang dan turis, sedangkan museum Katedral Jakarta sepi. :(



***