Sabtu, Desember 18, 2010

Dekorasi Natal Dengan Barang Sehari-Hari

Category: Decorating

Siapa bilang dekorasi Natal berarti harus ngibrit ke department store lantas memborong bola2 kaca warna-warni, boneka2 malaikat cantik dari kain berkilauan, patung2 Santa Claus yang berkilauan, hiasan pohon Natal yang bersinar-sinar bak kristal tertimpa cahaya dari bola lampu?

Ada cara yang lebih bersahabat untuk isi dompet dan untuk bumi kita. Gunakan barang2 sehari-hari.

Ya, betul. Gunakan barang2 kebutuhan se hari2 untuk dekorasi Natal. Tak percaya? Bisa dilihat dari post saya terdahulu tentang dekorasi Natal dengan barang bekas. Dan silakan lihiat gambar2 di bawah ini, yang diambil dari dekorasi Natal toko buku Aksara di Plaza Indonesia.

Bisa dilihat bahwa dengan menyusun buku2 dengan rapi berdasarkan jenis dan warna, kemudian mengelompokkan barang2 bernuansa merah, putih dan hijau, tercipta dekor Natal yang serasi dan tanpa perhiasan atau pajangan yang harus dibeli secara khusus di toko asesoris Natal. Paling ditambahkan pita2 merah dan rumbai2 hijau sebagai penyemarak. Hasil oke, modal minimal. :)


Apa saja yang digunakan sebagai centerpiece pada gambar di atas?
  • Kotak2 karton dibungkus kertas kado dan pita.
  • Toples2 yang diisi pelbagai benda berwarna merah: permen, kelereng, bahkan jepitan kertas.
Yang ini? Sama, namun dengan tambahan aneka alat tulis yang berwarna senada. Kuas2 cat dan pensil yang sangat biasa, ternyata bisa tampak cantik bisa disusun secara artistik. Bahkan lem2 kertas yang murah meriah, yang dulu sering saya pakai untuk bahan prakarya waktu SD, ternyata bisa menjadi hiasan Natal dengan kombinasi warna-nya yang ceria: botol plastik putih, tutup botol merah, label merek hijau-merah-putih. Siapa mengira pensil, kuas dan lem bisa menjadi pajangan Natal!



Ide yang sama, namun kali ini yang dipajang adalah kumpulan spidol merah. Saya bisa membayangkan kumpulan spidol warna-warni dalam stoples kaca bening, dan bahkan koleksi penghapus bisa menjadi hiasan yang unik. Hanya saja kali ini yang digunakan adalah warna Natal, bukan warna2 pelangi.

Ingat pulpen2 jadul dengan isi tinta merah dan hitam? Dan apabila saya kehabisan stoples, ternyata cangkir juga bisa dipakai.

Kreatif bukan?

***

Jumat, Desember 10, 2010

Dekorasi Natal Dengan Barang Bekas (Again....)

Category: Decorating

Deck the halls with boughs of hollies, fa la la la la la la la...


December is here! Berarti waktunya mengeluarkan pajangan2 Natal yang sudah setahun debuan dalam kardus.

Ini adalah beberapa inspirasi dekorasi Natal dari barang2 se hari2 dan barang2 bekas. (Pictures courtesy of my creative friend, initial C)

  • Pita2 bekas event kantor ternyata bisa di-recycle untuk melilit pegangan tangga dan menghias keranjang buku. Caranya gampang, tinggal pakai isolasi saja kok. Beres!
  • O iya, keranjang buku persegi dan bundar di foto. serta wadah nasi kaleng mungil dari kaleng merah juga bekas lho! Itu adalah wadah parcel Natal dari tahun lalu.
  • Sebagai alas mejanya ada taplak merah, emas dan putih. Itu terbuat dari kain2 sisa lho!
  • Lalu karangan pita merah dan emas yang dipasang di tangga juga bekas parcel.
  • Tatakan gelas warna-warni di bagian pojok kiri bawah dibuat dari potongan2 flanel bekas prakarya yang di tempel2 dengan lem uhu. Pola gambarnya cukup nge=print dari internet.

  • Pegangan pintu juga perlu dihias untuk Natal! Gantungan boneka salju ini juga sisa parcel beberapa tahun silam.
  • Boneka kijang Rudolph warna coklat dipakein syal tua merah-kuning yang sudah bolong sehingga tidak dipakai lagi.
  • Untuk menambah warna di sebelah boneka beruang bertopi Sinterklas, adalah kotak karton merah bekas permen coklat Lindtz.
  • Kotak coklat keemasan di sebelahnya? Bekas wedding souvenir. Pita hijau pengikatnya? Bekas bungkus permen coklat Ghirardeli!
  • Pita2 keemasan dekat kaki si boneka? Sisa dari parcel atau dipotong dari kartu2 undangan perkawinan. (Gosh, my friend! Kamu kayak pemulung yah! Tapi kreatif! Siapa juga yang kepikiran menyimpan potongan2 pita bekas untuk dekorasi!)

Ini basically adalah gabungan dari berbagai barang bekas yang kebetulan warna-warni cerianya cocok dengan tema Natal: merah, hijau, keemasan, dan silver.
  • Botol bekas bir Heineken sisa BBQ party
  • Toples2 kosong diisi segala macam benda yang berwarna cerah atau berkilauan, termasuk di antaranya kaleng bekas permen!
  • Kotak2 krem berhias pita merah yang didapat sebagai wadah wedding souvenir.
  • Paperbag Starbucks warna merah bergambar orang2an. Di dalamnya diisi tissu paper yang nongol di bagian atas. Tissu paper yang beli di toko yah? Hohoho.... Enggak! Itu adalah tissu paper bekas... dos sepatu! Tau kan kalau beli sepatu baru di dalam kardusnya suka ada tissu paper...
  • Pita2 yang diikatkan dan diserakkan di sana-sini? Ahem... Itu adalah pita2 sisa parcel, potongan dari baju anak2 yang sudah tidak dipakai lagi, pita bekas pembungkus kado, wedding souvenir, pita bungkus cemilan, pita penghiasan undangan kawinan, sampai pita hijau dan keemasan bekas ketupat yang menghias parcel Lebaran! Yup, karena warna pitanya ijo, bisa dipakai baik saat Lebaran maupun Natal! Teman saya ini mengumpulkan segala macam "sampah" tersebut dalam sebuah kantong bergambar bunga2 cantik (yang juga bekas), siap dikeluarkan di saat perlu. Jadi biarpun "mental pemulung", tapi gak bikin berantakan!

Hmmmm... rasanya mulai sekarang saya juga akan rajin jadi pemulung... Siapa sangka kombinasi barang2 bekas bisa diatur sedemikan rupa menjadi pajangan yang cantik.

Thanks for sharing your frugal creativity, C!

***

Selasa, November 30, 2010

Wow! Dekor Rumah Dengan Barang Bekas

Category: Decorating

Beberapa hari yang lalu, saya main ke rumah teman. Teman saya ini sama kayak saya: single dan tinggal sendiri. Bedanya, saya tinggal di kamar kos, dia tinggal di satu rumah dinas yang dipinjamkan perusahaan tempatnya bekerja.

Teman saya ini sangat “perempuan sekale”, baik dalam penampilan maupun kerapihan. Rumahnya, walaupun bukan milik sendiri, tertata dengan apik. Dan yang paling bikin saya kagum adalah, ketrampilannya untuk melakukan interior decorating without interior decorating. Lho?

Maksud saya, dia sangat kreatif dan pandai memanfaatkan barang2 di sekitarnya untuk menghias rumah. Dia tidak banyak membeli barang2 secara khusus untuk pajangan, melainkan menata barang2 yang dia miliki, hadiah dari teman2nya, dan yang paling sip: teman saya ini mempunyai knack tersendiri untuk menempatkan dan mengatur barang2 keperluan se hari2 – seperti buku, toples, keranjang, cangkir, boneka, dll – sedemikian rupa sehingga hasilnya tidak kalah asri dibanding apabila ia menghias rumah dengan barang2 pajangan yang khusus dibeli di toko. Dan lebih unik lagi, banyak benda2 ini berupa barang bekas yang ia peroleh dengan gratis!

Contohnya table centerpiece ini, yang ia buat khusus untuk acara Thanksgiving BBQ. Boneka2 nya pinjaman dari saya sih, tapi keranjang-nya ia dapatkan dari parcel Harvest yang dikirim ke kantornya. Alih2 membeli keranjang khusus di toko container, dia membawa pulang wadah tersebut dan menemukan berbagai cara untuk memanfaatkannya.

Kalau sedang tidak dibikin centerpiece, dia menggunakan keranjang bundar tsb untuk tempat para tamu menaruh kunci mobil, HP, dll, sehingga tidak berantakan di meja. Sedangkan keranjang buku di sebelahnya juga bekas wadah parcel. Dari gambar bisa dilihat bahwa ternyata menata beberapa buku bersampul menarik di dalam keranjang bisa menambah semarak meja makan. Teman saya ini berencana melapisi pinggiran keranjang yang coklat polos dengan pita2 pink. “Tetapi rencana tinggal rencana. Sampai sekarang masih gak sempat!” kisahnya sambil tertawa.

Surprise! Ternyata vas bunga ini bukan vas bunga, melainkan cangkir suvenir waktu membeli produk biskuit Oreo. Tuh, masih ada tulisannya. O-R-E-O.

Yang ini lain lagi. Toples2 beling ini adalah merchandise gratisan dari TransTV. Teman saya yang sangat kreatif mencuci bersih toples2 tsb kemudian mengisinya dengan selotip hias warna-warni. Toples yang kecil dia isi dengan kaleng sisa permen Starbucks. “Sebenarnya yang bagus sih diisi kelereng atau batu warna-warni, tapi karena gak punya ya diisi apa saja yang warna-warni dan eye catching, “ terangnya. Di sekitar toples2 tsb, ia menggabungkan hiasan patung kecil2 dengan kaleng bekas teh warna merah bergambar putri Cina, dan botol beling bekas minuman bergambar oranye dan ungu. Dengan sedikit kreativitas, barang2 yang biasanya berakhir di tempat sampah itu berhasil disulap menjadi pemanis rumah.

Untuk meja sudut ini, teman saya mengaku tidak mempunya pajangan yang cocok untuk menemani pot bunga anggrek yang dimilikinya. Untuk menghindari kesan kosong, ia menaruh boneka beruang souvenir acara ulang tahun anak temannya. “Karena sudut ruangan terkesan agak suram, warna biru terang baju boneka ini menambahkan sedikit kesan ceria, biar di pojok sini ada kesan warna yang “hidup”. Bagusnya ditaruh patung kristal kali ya, tapi gw ga ada budget buat beli kristalnya.” Perhatikan bahwa teman saya juga memajang jam weker model antik yang sudah tidak bisa dipakai lagi karena rusak. Jam meja keramik di belakang boneka adalah hadiah dari Telkomsel dan juga sudah tidak berfungsi lagi, tetapi ternyata bisa dimanfaatkan sebagai pajangan.

Di sekeliling rumah bertebaran pelbagai sentuhan artistik yang kreatif (dan murah meriah!) dari teman saya untuk mempercantik tempat tinggalnya. Dengan budget ala kadarnya. Semuanya barang se hari2. “Gw tidak suka nyampah dan membeli barang2 pajangan khusus yang membikin bangkrut. Jadi gw berusaha memanfaatkan barang2 se hari2 sebagai pajangan. Misalnya untuk lap pengering tangan di sebelah wastafel, gw memilih yang bermotif dan berwarna cerah. Lalu sabun cuci tangan, daripada gw khusus beli wadah sabun yang mahal, mendingan gw beli merk ini yang wadahnya berbentuk beruang. Gw juga berusaha menyimpan barang2 kecil seperti teh, kopi, gula dll dalam wadah2 kaleng bekas yang menarik. Temen2 gw di kantor semua tahu kalo gw suka koleksi kaleng bekas yang lucu2. “ ceritanya.

Lalu perhatikan meja tamu ini. Taplaknya adalah sepotong pashmina! Sebagai centerpiece teman saja memajang boneka Snoopy dan tungku aromaterapi. "Daripada boneka gw cuma ngendon di lemari, mending gw buat pajangan. Terus tungku aromaterapi itu gw beli di toko 5000-an." Wow!

Hari itu saya pulang dengan segudang ide di kepala. Ternyata mendekorasi rumah tidak harus mahal!

***

Selasa, November 23, 2010

When I'm Sick...

Category: Feelings & Thoughts

Paling sedih jadi orang yang tinggal sendirian kalo lagi sakit...

Minggu lalu saya sakit. Gak parah sih, tapi demam yang lumayan tinggi sempat membuat saya - seperti biasa kalo lagi sakit - sempat merasa jadi manusia termalang di dunia. Sediiiihnya tinggal sendirian pas lagi sakit. Bodo amat meng agung2kan kedewasaan, kemandirian, gaya hidup bebas orang muda di kota besar. Rasanya saya pengen nangis keras2 dan memanggil: "Mamiiiiiiiiiiiiih.... tuoluooooooongggg...."

Untung saya cepat sembuh sehingga episode dangdut cengeng di tengah kamar kos yang sempit itu pun tidak terlampau ber larut2. Sekarang saya sudah sehat lagi. Hore !!! Bisa jalan2 lagi. Hore !!! Bisa nonton Harry Potter. Hore !!! Bisa masuk kerja lagi. Ho... Eh, kalo yang ini gak hore2 amat sih, hehehe...

Se sedih2nya pengalaman sakit saat tinggal sendirian, tetap ada lho satu hal yang membuat saya teramat sangat bersyukur pada saat itu. Apakah gerangan?

Delivery pizza, delivery ayam goreng, delivery chinese food, dan segala macam jasa antaran makanan yang lain.

Sebagai anak kos yang tinggal sendiri, boro2 ada mama yang masakin kalo saya lagi sakit. Tetap saja saya kudu mengurus makanan saya sendiri. Beruntung bahwa karena naluri bisnis manusia yang mengatakan azas bahwa "ada gula ada semut, ada anak kos yang butuh makan delivery pasti laku - hampir semua, atau malah semua, restoran besar, sedang maupun kecil yang subur bertebaran di sekitar daerah kos saya menyediakan jasa antar makanan mulai dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam. Jadi selama sakit saya tidak perlu me rayap2 turun ke dapur untuk memasak indomie-lagi-indomie-lagi. Cukup pencet nomor di HP ke Pizza Hut, KFC, MacD, Rumah Makan 88, 55, dan restoran Chinese food lainnya, dan - voila! - 30 menit kemudian makanan pun diantar sampai ke depan pintu kamar. Thank God for food delivery services!

Tapi kan itu semua fast food gak sehat.... Ya emang sih. Tapi daripada gak makan? Daripada makan indomie 3 hari ber turut2? Hayoooo... Gak semua di antara kita cukup beruntung dirawat oleh mama saat sedang sakit. Mama saya malah gak tahu kalau anak perempuannya lagi mewek2 di Jakarta karena sakit. Saya sengaja tidak memberitahu supaya beliau tidak cemas.

Sesudah 2 hari mengandalkan hidup kepada jasa antar makanan, pada hari ke-3 cash saya ludes. Beruntung Pizza Hut menawarkan pembayaran dengan credit card bahkan untuk pesanan delivery. Kalo enggak, bisa2 hari ke-3 saya gak makan! Males bener lagi sakit begini keluar dulu nyari ATM baru bisa delivery makanan!

Aaaaaaaah.... Indahnya hidup. Bahkan dalam kegelapan ternyata masih ada setitik sinar terang. Hihihi...

***

Minggu, Oktober 31, 2010

Happy Halloween!

Category: Celebration



Biarpun ini bukan Amerika, I welcome every opportunity to have a lil' celebration, eat candies, and be merry!

Ini adalah foto pajangan Halloween ala kadarnya yang saya punya. Boneka2 mungil dengan tema warna2 musim gugur: sage green, mud brown, yellow, and pumpkin orange. Saya membelinya di toko Daiso. Tatakan keramik bentuk hati adalah oleh2 teman waktu dia training ke luar negeri. Taplak meja warna hijau ini sebenarnya bukan taplak meja, tapi sehelai kain bekas sprei yang sudah digunting persegi lalu dikelim untuk "membungkus" meja kecil saya. Maklum, anak kos dengan dana terbatas. Mana bisa majang dekorasi yang wah. :P

Happy Halloween, Everyone!

***

Sabtu, Oktober 30, 2010

Go Green ala Orang Males

God gives us The Great Mother Earth.
For all these years, she has loved us and blessed us with bounty.
Love her back.


Category: Tips

Dengan maraknya bencana alam yang menimpa negeri kita tercinta ini, saya jadi kepingin share sedikit tentang gerakan go green kecil2an yang selama beberapa tahun ini dijalankan oleh sekelompok anak muda Jakarta - salah satunya saya.

Sebagai orang muda yang senang gaul, sibuk cari duit, jalan2, pacaran, hura2, kebanyakan tips go green membuat kami merinding. Berhenti pake mobil? Ogah lah yao. Naek sepeda ke kantor? Ngngng... boleh lah kalo ini Singapore, tapi kalo di Jakarta kayaknya males deh ngisep udara debu. Gak makan daging? Amit2... Belum ikhlas bo!

Pada prinsipnya, kami, saya percaya bahwa cara terbaik untuk go green adalah dengan urutan berikut. Nomor 1: REDUCE consumption. Nomor 2: RECYCLE what you've already had. Nomor bontot: baru deh SUBSTITUTE.

Saya basically gak setuju dengan SUBSTITUTE. Kenapa? Karena ini sebenarnya go green "tepu2", menurut saya. Contoh, di acara Oprah, Sandra Bullock pernah menunjukkan bagaimana dia suka makan di restoran yang tidak menggunakan sendok garpu plastik sekali buang, tetapi sendok garpu sekali pakai yang terbuat dari... kentang. Lalu Cameron Diaz menggunakan mobil berbahan bakar minyak nabati.

Nah, kenapa saya gak setuju? Karena yang namanya barang pengganti tetap saja membutuhkan resources dari bumi kita tercinta ini. With all due respect, saya rasa Ms. Bullock dan Ms. Diaz gak kepikir bahwa kalau tren memakai sendok kentang dan bensin nabati sampai merajalela, pasti akan ada beberapa otak bisnis yang (memang sudah sewajarnya) ingin memproduksi barang2 yang mendukung gerakan go green ini. Caranya? Bukan hanya memproduksi barang2 imut dengan slogan2 cinta lingkungan buat para ABG, tetapi juga menebang hutan untuk membuat perkebunan kelapa sawit dan ladang kentang guna memproduksi barang2 substitusi tadi! Lha, tujuan menyelamatkan bumi malah jadi melenceng donk.

Makanya saya lebih percaya REDUCE dan RECYCLE, karena mengurangi jumlah sumber daya yang dipakai dan pada akhirnya mengurangi sampah yang terjadi. Gak usah ekstrem, yang gampang2 saja.

Inilah beberapa hal yang selama beberapa tahun terakhir ini kami lakukan. Sebisa-bisa kami.

Senantiasa membawa 1 kantong plastik di dalam dompet
Buat apa? Supaya tiap kali saya belanja barang kecil2 seperti beli obat jerawat di apotek Century, beli 2 novel di Kinokuniya, beli sekotak pulpen di Gramedia, beli beberapa potong coklat dan keripik di Giant buat cemilan di kantor - saya gak perlu minta kantong plastik. Saya bisa memakai kantong plastik saya sendiri dan sesudahnya bisa saya lipat2 dan simpan lagi di dompet untuk dipakai lagi dan lagi. Kenapa di dompet? Karena dompet adalah 1 barang yang pasti gak akan ketinggalan, sehingga gak ada lagi alasan lupa bawa kantong plastik.

Gunakan rantang sendiri tiap kali menyuruh OB kantor beli sarapan pagi/makan siang
Hampir tiap pagi kami yang orang2 muda kantoran ini meminta OB membelikan sarapan pagi: mie ayam, gado2, bubur, dll. Sejak beberapa tahun ini saya meminta OB membawa kotak makanan imut bergambar Hello Kitty milik saya, sehingga si penjual tidak perlu memberi kotak styrofoam sebagai wadah untuk saya yang toh nantinya bakal dibuang. Sesudah makan, saya tinggal minta tolong OB mencucikan wadah tersebut. Beres, ringkes, praktis.

Menolak pake sedotan plastik
Kalau beli teh botol di warung ya mau gak mau pake sedotan, kecuali situ mau nyucup dari botol atau plastiknya. Tapi kalau sedang makan di resto2 atau cafe kami sebisa mungkin tidak minum pake sedotan. Kenapa? Karena sedotan terbuat dari plastik, that's why. Dan sama seperti styrofoam, plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk bisa diuraikan oleh bumi tercinta.

Recycle kantong plastik yang sudah ada
Satu hal yang saya gak bisa adalah menolak kantong plastik sewaktu belanja bulanan di hypermarket. Kenapa? Perhatikan kata belanja bu-lan-an. Artinya saya berbelanja dalam jumlah banyak. Artinya ribet banget kalo saya kudu nenteng2 berbagai tas belanja saya sendiri dari rumah padahal seringnya saya belanja bulanan sekalian mampir pulang kerja atau pulang jalan2. Terlalu repot. Tapi setelah saya tiba di rumah dan barang2 sabun, odol, susu bubuk, indomie dll sudah nangkring dengan manis di rak, lemari, dan lemari es, kantong2 plastik pembungkusnya selalu saya lipat rapi dan simpan di laci. Untuk apa? Macam2. Yang paling sering sih untuk alas tempat sampah. Untuk ganjal tas tangan dan sepatu supaya bentuknya tetap bagus. Dan tentu saja bisa buat membawa macam2 barang.

Membawa air putih sendiri
Buat cowo ini mungkin ribet. Tapi buat cewe yang biasanya membawa tas ke mana2, cara ini cukup gampang dan in the long run, bisa ngirit duit lumayan lho! Saya membeli sebuah tempat minum yang berkualitas baik, kuat, dan yang paling penting: tutupnya rapat sehingga biarpun saya loncat2 atau gimana, tempat minum tersebut tidak akan terbuka dan airnya tumpah membasahi tas saya berikut barang2 di dalamnya. Saya lumayan sering membawa minum sendiri sehingga konsumsi membeli air mineral dalam botol plastik bisa dikurangi. Ngirit, sekaligus mengurangi sampah plastik!

Mengurangi nge-print, atau paling tidak print bolak-balik
Di kantor, kecuali untuk dokumen2 resmi, saya selalu mengeset computer saya untuk mengeprint otomatis bolak-balik. Dengan demikian kalau saya ngeprint 50 halaman dokumen, kertas yang dipakai cuma 25. Untuk ngeprint dokumen Power Point, saya menggunakan print handout, sehingga 2 halaman bisa di-print dalam 1 kertas. Toh biasanya Power Point tulisannya besar2 sehingga tidak perlu dicetak seukuran 1 halaman penuh! Tanya saja sama rekan2 IT bagaimana cara setting untuk print bolak-balik secara otomatis. Gampang kok.

Hanya itu saja? Gak seru ah!

Lho, justru karena yang saya lakukan itu gampang2 saja dan tidak ngoyo, saya dan teman2 selama ber tahun2 telah melakukannya - dan akan terus melakukannya - secara konsisten. Kelihatannya simpel dan tidak sekeren gerakan2 seperti "Bike to Work" atau "Tanam 1000 Pohon". Tapi dengan caranya sendiri, tips2 ini juga efektif. Coba bayangkan kalau 1000 saja orang muda Jakarta melakukan hal2 di atas selama setahun. Berapa banyak sampah plastik dan kertas yang bisa dikurangi? Berapa banyak pohon yang bisa enggak ditebang untuk kertas? LOTS.

Apakah gak akan bikin pabrik plastik dan kertas bangkrut? Enggak lah. Even with all of those, masih banyak sekali plastik yang dikonsumsi dunia untuk berbagai barang, mulai dari Tupperware cantik sampai bungkus keripik kentang. Kertas? Masih banyak kertas yang kita perlukan untuk majalah, bungkus kado, undangan kawinan, dll.

Apakah saya rela tidak memakai kontainer2 cantik dari bahan plastik dan stop membeli paperbag manis untuk wadah kado teman yang berulang tahun? Enggak lah yaaaa... Saya belumlah seorang green sejati. I'm just an ordinary girl trying to do what she could to make this world a better. In my own little ways. And via this blog, I'd like to invite many many others to do so, also in their own little (or big) ways.

***

Sabtu, Oktober 23, 2010

I Bought Fish!

Category: Daily Life

I just bought a fish! No. Two of them! Sepasang ikan bermata bulat berbibir dower warna pink kembang2. Lho?

Hari ini saya maen ke rumah teman di daerah Kelapa Gading. Saya jarang ke daerah ini, jadi untuk menghindari saya nyasar ke mana2, kita memutuskan untuk ketemuan di Mal Artha Gading yang letaknya persis di sebelah jalan tol sehingga mudah dicari.

Di mal ini ada 1 toko bernama Daiso yang menjual barang2 lucu dari Jepang (ngakunya sih begitu, tapi saya terus terang curiga kalau semuanya buatan China atau malah Indonesia, yang ditempel tulisan "made in Japan"; soalnya mana mungkin di negara semahal Jepang bisa membuat barang murah meriah kayak begini). Semua barang di toko ini harganya sama yaitu 22 ribu rupiah. Mungkin kayak Dollar Store di Amerika. Tidak semurah toko Great Value yang harganya semua 6000-an perak sih. Tapi beberapa barang di sini memang lumayan unik.

Look what I've got.


Saya menemukan kantong yang lucu ini. Terbuat dari bahan kain pink bermotif bunga seruni dan kupu2 dengan sulur2an dan daun2an hijau. Yang unik adalah bagian bawahnya yang dibordir bentuk bulat dengan benang hitam-putih, dan sulaman bentuk bibir warna pink pucat yang agak dower, plus semacam sirip di kiri-kanan, sehingga bentuknya secara keseluruhan menyerupai ikan.


Kalau talinya ditarik, bentuknya jadi mirip sepasang ikan kembung. They're so cute I couldn't resist! Imut banget, sehingga saya tak kuasa menolak. Sekalipun 22 ribu rupiah buat saya adalah harga yang tidak murah untuk sebuah pouch atau kantong kain doang, saya meyakinkan diri sendiri bahwa kain bermotif yang nuansanya "sangat Jepang" seperti ini toh tidak gampang ditemukan. Kalau saya tenteng ke mana2 nggak pasaran, nggak malu2in. Lagian saya memang memerlukan wadah baru untuk handphone dan koleksi kunci kos/kunci mobil saya. Yang kepunyaan saya sudah tua, warnanya sudah kusam dan benangnya jrawut di sana sini. Kan gak mungkin kunci2, STNK dan SIM saya bertebaran di dalam tas begitu saja. Susah nyarinya. (See? When a girl already decided that she wants to buy something, it would be mission impossible to convince her otherwise!)
I love my new pink, flowery, cute fish pouches!
***