Kamis, Mei 05, 2011
Belek...
Nah, bagi yang sudah pernah belekan, mungkin Anda2 tau bahwa sebenarnya belekan itu mirip sakit perut yang mules2, badan dan otak sebagian besar masi berfungsi dengan baik, tapi opearasional se hari2 jadi terganggu.
Dan tambahan lagi: khusus untuk belekan, penyakit ini luar biasa menular. Jadi saya merasa lebih aman kerja dari rumah saja, daripada masuk kantor dijauhin sama orang2 dan rekan2 kerja yang punya anak kecil ngomel ke saya.
Jadilah pagi2 sekitar jam 7-an saya kirim SMS ke juragan imut di kantor. (Maksud saya, pastinya si juragan imut jam segitu masi molor di rumah, tapi dia kan juragan saya di kantor gitu lho!)
Saya: "Pagi pak. Maap. Mata kiri sy belek. Krn setau sy itu menular, sy ijin tdk ngantor dulu sampe beleknya sembuh. Harap maklum. Makasih pak."
Jawaban datang kira2 jam 8 lebih.
Juragan imut: "Iya, jangan sampe lo nularin seisi kantor... Dasar penyakit orang kampung sih, hehehe..."
FYI, juragan imut saya ini, biarpun most of the time baik, manis, pintar, dan sangat generous, tapi kadang2 usilnya bukan main ngeledekin asal usul saya yang dari kampung di Jawa Tengah.
Aaaah... hati tenang, acara gak masuk kantor sudah di"restui". Jadilah seharian saya leyeh2 di kasur sambil pake obat tetes mata, ngebersihin kotoran di mata pake tisu yang dibasahin air, dan tak lupa cek kerjaan anak2 via telpun dan email dan sms.
Sekitar jam 3 sore, ada sms masuk.
Juragan imut: "Gile, belekmu menular nak..."
Saya: "Ha? Nular ke sapa? Sy kan ga ngantor pak, jangan nuduh gitu donk..."
Juragan imut: "Nular ke gw atuh... :( "
Saya: "Huaduhuaduh... Ma-ap pak. Tapi yakin tuh bukan bapak yang nularin saya, hehehe..."
Juragan imut: gak ada balesan, keki kali doi...
That sms made my day! Kapan lagi bisa ngerjain bos, wkwkwkwkwk...
You know what, folks, bos yang baik dan generouos itu hadiah dari Tuhan. Never take him/her for granted!
Senin, April 11, 2011
Hate Monday? Read On...
Pake baju warna cerah
Siapkan baju, sepatu dan asesoris yang akan dipakai kerja sejak Minggu malam, sehingga Senin pagi tidak diawali dengan terbirit-birit lantaran terlalu lama molor dan bingung memilih baju. Tidak ingin minggu Anda diawali dengan bad mood gara2 salah kostum kan?
Pilih warna2 ceria. Misalnya kombinasi abu2 dengan warna burgundy yang manis. Atau hitam dengan aqua blue nan ceria. Kalau takut keliatan terlalu "manyala", tambahkan saja blazer. Beres. Anda penggemar warna hitam sejati? Tambahkan saja sepatu warna ngejreng seperti kuning atau merah supaya penampilan Anda jadi lebih semarak.
Bikin kegiatan yang menyenangkan di hari Senin. Misalnya janjian dinner dengan teman2 sepulang kerja. Atau bikin appointment untuk creambath di salon kesayangan Anda. Dengan demikian, paling tidak ada sesuatu yang Anda tunggu2 pada hari Senin.
Happy Monday! Senin, Maret 07, 2011
Hard to Say I'm Sorry

Category: Feelings & Thoughts
"Sebuah SPBU di Taman Kopo (Bdg) diblokir paksa oleh masyarakat krn dianggap sering menimbulkan kecelakaan. Penyebabnya: Banyak pemotor yg keluar dr SPBU lbh memilih belok kiri melawan arus lalin ke persimpangan terdekat ketimbang memutar sesuai arus. *Lho..anggota masyarakatnya yg mbalelo kok SPBUnya yg diblokir? Masyarakat yg aneh...* "
Di atas adalah bunyi status seorang teman di fesbuk yang menginspirasi dibuatnya tulisan ini.
Dalam salah satu tulisan terdahulu tentang cara berpakaian di rumah ibadah saya pernah menulis bahwa ada beberapa adat Barat (Amerika) yang patut ditiru oleh orang Timur. Bukannya saya pro-Barat, gini2 saya tetap orang Timur tulen, tapi menurut saya, kalau ada hal2 yang bagus dan patut ditiru, entah dari mana pun asalanya, kenapa tidak?
Hari ini saya menyoroti budaya MEMINTA MAAF.
Waktu mencari gambar untuk artikel ini, saya melakukan 2 search di Google. Pertama saya mencari gambar dengan keyword SORRY. Kedua saya mencari gambar dengan keyword MAAF. Hasilnya cukup menarik. Pencarian pertama membuahkan banyak sekali gambar2 lucu macam ilustrasi kartu untuk meminta maaf secara personal. Pencarian kedua menghasilkan gambar signage lalu lintas "Maaf sedang ada perbaikan" atau gambar bertema hari raya Lebaran. Tak percaya? Silakan coba.
Kesimpulan saya: meminta maaf secara personal bagi orang2 yang berbahasa Indonesia, paling tidak di dunia maya, jauh lebih tidak populer daripada bagi orang2 yang berbahasa Inggris.
Meminta maaf memang bukan budaya Timur. Orang lebih suka bohong terang2an (bahkan kadang dengan resiko terlihat bodoh dan muka badak, orang jelas2 semua orang tahu dia bohong) daripada mengakui kesalahan. Mengaku bersalah identik dengan terlihat lemah.
Kurang yakin?
Coba bandingkan contoh2 berikut...
Kasus Tiger Woods vs Ariel
Waktu affair2nya ketahuan, Tiger Woods dengan berani membuat pernyataan maaf di muka umum. Lha kalau Ariel? Eh, salah. Kok saya nuduh ya. Pelaku di video porno itu bukan Ariel ding. Kan dia gak pernah ngaku. Yang ngaku Cut Tari. Hahaha...
Kasus Bill Clinton vs... Yah, pejabat mana aja yang jelas2 bo-ong tapi ogah ngaku dah!
Bill Clinton memang pertamanya ngebantah habis2an, tetapi setelah bukti2 kuat terkuak tentang kasusnya dengan Monica Lewinsky, dia mengaku dan meminta maaf kepada seluruh rakyat Amerika Serikat.
Lalu? Ya contoh status fesbuk di atas. Massa memilih menutup SPBU biarpun sebenarnya yang jelas2 salah para pemotor yang notabene anggota masyarakat sendiri. Pokoknya yang salah bukan saya! Saya gak pernah salah! Itu orang laen yang salah!
We, Easterners, or more specifically Indonesians, have a tendency to blame everything and everyone else but ourselves.
Saya ingat perjalanan pulang dari Amerika ke Indo. Di LA, pemberhentian terakhir sebelum Asia, kalau ada orang tak sengaja menabrak saya, si bule akan berkata, "Sorry." atau "Excuse me."
Begitu transit di Narita apalagi Jakarta, kalau ada orang nabrak, atau bahkan ada yang ngegiles kaki saya dengan kereta dorong, boro2 minta maaf, peduli aja enggak. Waktu itu saya sempat berpikir "Inikah adat orang Timur yang katanya menjunjung tinggi sopan santun dan keramahtamahan itu?"
Kasus lain. Saya pernah memesan delivery di sebuah restoran. Si mbak yang terima telpon berkata jam 7 malem paling telat pesanan nyampe. Oke deh. Jam 7.45 malem kok belum nyampe juga. Waktu saya telpon balik, kebetulan yang menerima telpon mbak yang sama. Waktu saya dengan agak jengkel memprotes, eeeee, dia malah balik bilang : "Kan saya sudah bilang jam 7 baru mau jalan mbak. Ini udah mau jalan kok!" Dalam hati saya pengen bilang "Jidat lo nong-nong ya! Emang sih mungkin gw tadi salah denger, jam 7 berangkat dari resto, bukan jam 7 nyampe rumah gw. Tapi ini udah jam 7.45, dodooool!" Tapi daripada makanan saya entar dicampur racun, ya udahlah. Padahal apa susahnya sih bilang, "Aduh, sorry Mbak. Iya nih telat."
Tapi coba katakan pada si orang anti-minta-maaf itu: "Lo kalo salah ngaku aja minta maaf napa sih!" Ooooooooo, yang ada dia bisa:
- Ngeles. "Iya nih orang2 emang payah udah salah gak mau ngaku. Kalo gw sih, kalo udah salah ya pasti ngaku!"
- Atau: ngamuk.
Ya, namanya juga anti-ngaku-salah. Minta maaf? Gengsi, gila!
Seorang teman saya yang kebetulan kerjanya jadi bos bagian riset dan juga ayah dari 2 anak (dan pernah tinggal 6 tahun di Amerika, jadi bisa membandingkan antara budaya Indo dan Amrik) pernah bilang:
"Mengakui kesalahan memang bukan budaya kita. Dan itu sudah dikondisikan dari kecil. Coba di sini, kalau anak kecil yang lagi belajar jalan nabrak tembok, apa kata ibunya? 'Ooooooo, sayaaaaang... Kasiaaaaan... Temboknya nakal ya? Nih, Mama pukul temboknya ya. Udah sayang, tuh, udah Mama pukul temboknya yang nakal. Jangan nangis lagi ya sayaaaang...'
Lha wong tembok jelas2 diem aja kenapa bisa dia yang salah?
Coba kalau anak bule yang nabrak tembok, ibunya bilang 'Oh, my poor baby! Are you hurt? Come here, darling. Next time, be careful, use your eyes, OK? That's my boy!"
Nah, beda kan? Yang pertama nyalahin tembok, yang kedua ngebilangin supaya belajar dari kesalahan dan jangan mengulanginya lagi. Maksud si ibu mungkin baik, supaya anaknya gak nangis. Tapi lama2 si anak merasa 'Gue ngapain aja kalau terjadi apa2, yang salah selalu orang lain. Bukan salah gue!' Dan itu terbawa sampai besar, sampai anak itu jadi artis terkenal atau pejabat atau apa pun."
Hmmmmmmmm....
Benar juga ya...
Jadi bagusnya gimana donk? Bagaimanapun kita kan orang Indo dan tinggal di Indo.
Ya iya sih, tapi seperti saya bilang tadi, kalau memang ada sesuatu yang baik, biarpun datengnya dari luar, kan gak ada salahnya dicangkok. Iya kan? Kertas aja pertama kali dibuat di Cina. Agama juga semuanya datang dari luar negeri. Bahasa Indonesia sendiri mencangkok kosa kata mulai dari bahasa Sanskrit sampai Belanda.
Lagian kalau bangsa ini tetep kekeuh gak mau ngaku salah (kalo memang salah lho ya), ya jadinya gak maju2, tetap seperti sekarang ini. Pejabat salah kekeuh gak mau mundur. Pengusaha bikin bencana alam cuek aja. Barang lokal kalah sama barang impor bukannya ngebenahin diri malah teriak2 minta proteksi. Gedung wakil rakyat diprotes lantaran kemahalan? Wakil rakyatnya malah bilang di koran: "Itu yang ngomong orang2 yang gak ngerti. Kalo gak ngerti gak usah ngomong. " Halo halo halo, orang Indo gini2 juga banyak yang jadi kontraktor lho, pastinya ngerti ongkos bikin gedung lah! Emang orang Indo bodoh semua?
Tulisan seorang Indonesia yang bangga jadi orang Indonesia, cinta Indonesia, tapi kadang2 malu sendiri sama kelakuan (gak semua lhoo) orang Indonesia.
***
Sabtu, Maret 05, 2011
Bagi Yang Mau Bikin Suvenir Kawinan

Sabtu, Desember 25, 2010
Merry Christmas! Buon Natale! Feliz Navidad! Selamat Natal!
Sabtu, Desember 18, 2010
Dekorasi Natal Dengan Barang Sehari-Hari
Siapa bilang dekorasi Natal berarti harus ngibrit ke department store lantas memborong bola2 kaca warna-warni, boneka2 malaikat cantik dari kain berkilauan, patung2 Santa Claus yang berkilauan, hiasan pohon Natal yang bersinar-sinar bak kristal tertimpa cahaya dari bola lampu?
Ada cara yang lebih bersahabat untuk isi dompet dan untuk bumi kita. Gunakan barang2 sehari-hari.
Ya, betul. Gunakan barang2 kebutuhan se hari2 untuk dekorasi Natal. Tak percaya? Bisa dilihat dari post saya terdahulu tentang dekorasi Natal dengan barang bekas. Dan silakan lihiat gambar2 di bawah ini, yang diambil dari dekorasi Natal toko buku Aksara di Plaza Indonesia.
Bisa dilihat bahwa dengan menyusun buku2 dengan rapi berdasarkan jenis dan warna, kemudian mengelompokkan barang2 bernuansa merah, putih dan hijau, tercipta dekor Natal yang serasi dan tanpa perhiasan atau pajangan yang harus dibeli secara khusus di toko asesoris Natal. Paling ditambahkan pita2 merah dan rumbai2 hijau sebagai penyemarak. Hasil oke, modal minimal. :)

Apa saja yang digunakan sebagai centerpiece pada gambar di atas?
- Kotak2 karton dibungkus kertas kado dan pita.
- Toples2 yang diisi pelbagai benda berwarna merah: permen, kelereng, bahkan jepitan kertas.
Yang ini? Sama, namun dengan tambahan aneka alat tulis yang berwarna senada. Kuas2 cat dan pensil yang sangat biasa, ternyata bisa tampak cantik bisa disusun secara artistik. Bahkan lem2 kertas yang murah meriah, yang dulu sering saya pakai untuk bahan prakarya waktu SD, ternyata bisa menjadi hiasan Natal dengan kombinasi warna-nya yang ceria: botol plastik putih, tutup botol merah, label merek hijau-merah-putih. Siapa mengira pensil, kuas dan lem bisa menjadi pajangan Natal!
Ide yang sama, namun kali ini yang dipajang adalah kumpulan spidol merah. Saya bisa membayangkan kumpulan spidol warna-warni dalam stoples kaca bening, dan bahkan koleksi penghapus bisa menjadi hiasan yang unik. Hanya saja kali ini yang digunakan adalah warna Natal, bukan warna2 pelangi.
Jumat, Desember 10, 2010
Dekorasi Natal Dengan Barang Bekas (Again....)
Deck the halls with boughs of hollies, fa la la la la la la la...
December is here! Berarti waktunya mengeluarkan pajangan2 Natal yang sudah setahun debuan dalam kardus.
Ini adalah beberapa inspirasi dekorasi Natal dari barang2 se hari2 dan barang2 bekas. (Pictures courtesy of my creative friend, initial C)
- Pita2 bekas event kantor ternyata bisa di-recycle untuk melilit pegangan tangga dan menghias keranjang buku. Caranya gampang, tinggal pakai isolasi saja kok. Beres!
- O iya, keranjang buku persegi dan bundar di foto. serta wadah nasi kaleng mungil dari kaleng merah juga bekas lho! Itu adalah wadah parcel Natal dari tahun lalu.
- Sebagai alas mejanya ada taplak merah, emas dan putih. Itu terbuat dari kain2 sisa lho!
- Lalu karangan pita merah dan emas yang dipasang di tangga juga bekas parcel.
- Tatakan gelas warna-warni di bagian pojok kiri bawah dibuat dari potongan2 flanel bekas prakarya yang di tempel2 dengan lem uhu. Pola gambarnya cukup nge=print dari internet.

- Pegangan pintu juga perlu dihias untuk Natal! Gantungan boneka salju ini juga sisa parcel beberapa tahun silam.
- Boneka kijang Rudolph warna coklat dipakein syal tua merah-kuning yang sudah bolong sehingga tidak dipakai lagi.
- Untuk menambah warna di sebelah boneka beruang bertopi Sinterklas, adalah kotak karton merah bekas permen coklat Lindtz.
- Kotak coklat keemasan di sebelahnya? Bekas wedding souvenir. Pita hijau pengikatnya? Bekas bungkus permen coklat Ghirardeli!
- Pita2 keemasan dekat kaki si boneka? Sisa dari parcel atau dipotong dari kartu2 undangan perkawinan. (Gosh, my friend! Kamu kayak pemulung yah! Tapi kreatif! Siapa juga yang kepikiran menyimpan potongan2 pita bekas untuk dekorasi!)

Ini basically adalah gabungan dari berbagai barang bekas yang kebetulan warna-warni cerianya cocok dengan tema Natal: merah, hijau, keemasan, dan silver.
- Botol bekas bir Heineken sisa BBQ party
- Toples2 kosong diisi segala macam benda yang berwarna cerah atau berkilauan, termasuk di antaranya kaleng bekas permen!
- Kotak2 krem berhias pita merah yang didapat sebagai wadah wedding souvenir.
- Paperbag Starbucks warna merah bergambar orang2an. Di dalamnya diisi tissu paper yang nongol di bagian atas. Tissu paper yang beli di toko yah? Hohoho.... Enggak! Itu adalah tissu paper bekas... dos sepatu! Tau kan kalau beli sepatu baru di dalam kardusnya suka ada tissu paper...
- Pita2 yang diikatkan dan diserakkan di sana-sini? Ahem... Itu adalah pita2 sisa parcel, potongan dari baju anak2 yang sudah tidak dipakai lagi, pita bekas pembungkus kado, wedding souvenir, pita bungkus cemilan, pita penghiasan undangan kawinan, sampai pita hijau dan keemasan bekas ketupat yang menghias parcel Lebaran! Yup, karena warna pitanya ijo, bisa dipakai baik saat Lebaran maupun Natal! Teman saya ini mengumpulkan segala macam "sampah" tersebut dalam sebuah kantong bergambar bunga2 cantik (yang juga bekas), siap dikeluarkan di saat perlu. Jadi biarpun "mental pemulung", tapi gak bikin berantakan!
Hmmmm... rasanya mulai sekarang saya juga akan rajin jadi pemulung... Siapa sangka kombinasi barang2 bekas bisa diatur sedemikan rupa menjadi pajangan yang cantik.
Thanks for sharing your frugal creativity, C!
***











