Senin, Maret 07, 2011

Hard to Say I'm Sorry


Category: Feelings & Thoughts

"Sebuah SPBU di Taman Kopo (Bdg) diblokir paksa oleh masyarakat krn dianggap sering menimbulkan kecelakaan. Penyebabnya: Banyak pemotor yg keluar dr SPBU lbh memilih belok kiri melawan arus lalin ke persimpangan terdekat ketimbang memutar sesuai arus. *Lho..anggota masyarakatnya yg mbalelo kok SPBUnya yg diblokir? Masyarakat yg aneh...* "

Di atas adalah bunyi status seorang teman di fesbuk yang menginspirasi dibuatnya tulisan ini.

Dalam salah satu tulisan terdahulu tentang cara berpakaian di rumah ibadah saya pernah menulis bahwa ada beberapa adat Barat (Amerika) yang patut ditiru oleh orang Timur. Bukannya saya pro-Barat, gini2 saya tetap orang Timur tulen, tapi menurut saya, kalau ada hal2 yang bagus dan patut ditiru, entah dari mana pun asalanya, kenapa tidak?

Hari ini saya menyoroti budaya MEMINTA MAAF.

Waktu mencari gambar untuk artikel ini, saya melakukan 2 search di Google. Pertama saya mencari gambar dengan keyword SORRY. Kedua saya mencari gambar dengan keyword MAAF. Hasilnya cukup menarik. Pencarian pertama membuahkan banyak sekali gambar2 lucu macam ilustrasi kartu untuk meminta maaf secara personal. Pencarian kedua menghasilkan gambar signage lalu lintas "Maaf sedang ada perbaikan" atau gambar bertema hari raya Lebaran. Tak percaya? Silakan coba.

Kesimpulan saya: meminta maaf secara personal bagi orang2 yang berbahasa Indonesia, paling tidak di dunia maya, jauh lebih tidak populer daripada bagi orang2 yang berbahasa Inggris.

Meminta maaf memang bukan budaya Timur. Orang lebih suka bohong terang2an (bahkan kadang dengan resiko terlihat bodoh dan muka badak, orang jelas2 semua orang tahu dia bohong) daripada mengakui kesalahan. Mengaku bersalah identik dengan terlihat lemah.

Kurang yakin?

Coba bandingkan contoh2 berikut...

Kasus Tiger Woods vs Ariel

Waktu affair2nya ketahuan, Tiger Woods dengan berani membuat pernyataan maaf di muka umum. Lha kalau Ariel? Eh, salah. Kok saya nuduh ya. Pelaku di video porno itu bukan Ariel ding. Kan dia gak pernah ngaku. Yang ngaku Cut Tari. Hahaha...

Kasus Bill Clinton vs... Yah, pejabat mana aja yang jelas2 bo-ong tapi ogah ngaku dah!

Bill Clinton memang pertamanya ngebantah habis2an, tetapi setelah bukti2 kuat terkuak tentang kasusnya dengan Monica Lewinsky, dia mengaku dan meminta maaf kepada seluruh rakyat Amerika Serikat.

Lalu? Ya contoh status fesbuk di atas. Massa memilih menutup SPBU biarpun sebenarnya yang jelas2 salah para pemotor yang notabene anggota masyarakat sendiri. Pokoknya yang salah bukan saya! Saya gak pernah salah! Itu orang laen yang salah!

We, Easterners, or more specifically Indonesians, have a tendency to blame everything and everyone else but ourselves.

Saya ingat perjalanan pulang dari Amerika ke Indo. Di LA, pemberhentian terakhir sebelum Asia, kalau ada orang tak sengaja menabrak saya, si bule akan berkata, "Sorry." atau "Excuse me."

Begitu transit di Narita apalagi Jakarta, kalau ada orang nabrak, atau bahkan ada yang ngegiles kaki saya dengan kereta dorong, boro2 minta maaf, peduli aja enggak. Waktu itu saya sempat berpikir "Inikah adat orang Timur yang katanya menjunjung tinggi sopan santun dan keramahtamahan itu?"

Kasus lain. Saya pernah memesan delivery di sebuah restoran. Si mbak yang terima telpon berkata jam 7 malem paling telat pesanan nyampe. Oke deh. Jam 7.45 malem kok belum nyampe juga. Waktu saya telpon balik, kebetulan yang menerima telpon mbak yang sama. Waktu saya dengan agak jengkel memprotes, eeeee, dia malah balik bilang : "Kan saya sudah bilang jam 7 baru mau jalan mbak. Ini udah mau jalan kok!" Dalam hati saya pengen bilang "Jidat lo nong-nong ya! Emang sih mungkin gw tadi salah denger, jam 7 berangkat dari resto, bukan jam 7 nyampe rumah gw. Tapi ini udah jam 7.45, dodooool!" Tapi daripada makanan saya entar dicampur racun, ya udahlah. Padahal apa susahnya sih bilang, "Aduh, sorry Mbak. Iya nih telat."

Tapi coba katakan pada si orang anti-minta-maaf itu: "Lo kalo salah ngaku aja minta maaf napa sih!" Ooooooooo, yang ada dia bisa:
  1. Ngeles. "Iya nih orang2 emang payah udah salah gak mau ngaku. Kalo gw sih, kalo udah salah ya pasti ngaku!"
  2. Atau: ngamuk.

Ya, namanya juga anti-ngaku-salah. Minta maaf? Gengsi, gila!

Seorang teman saya yang kebetulan kerjanya jadi bos bagian riset dan juga ayah dari 2 anak (dan pernah tinggal 6 tahun di Amerika, jadi bisa membandingkan antara budaya Indo dan Amrik) pernah bilang:

"Mengakui kesalahan memang bukan budaya kita. Dan itu sudah dikondisikan dari kecil. Coba di sini, kalau anak kecil yang lagi belajar jalan nabrak tembok, apa kata ibunya? 'Ooooooo, sayaaaaang... Kasiaaaaan... Temboknya nakal ya? Nih, Mama pukul temboknya ya. Udah sayang, tuh, udah Mama pukul temboknya yang nakal. Jangan nangis lagi ya sayaaaang...'

Lha wong tembok jelas2 diem aja kenapa bisa dia yang salah?

Coba kalau anak bule yang nabrak tembok, ibunya bilang 'Oh, my poor baby! Are you hurt? Come here, darling. Next time, be careful, use your eyes, OK? That's my boy!"

Nah, beda kan? Yang pertama nyalahin tembok, yang kedua ngebilangin supaya belajar dari kesalahan dan jangan mengulanginya lagi. Maksud si ibu mungkin baik, supaya anaknya gak nangis. Tapi lama2 si anak merasa 'Gue ngapain aja kalau terjadi apa2, yang salah selalu orang lain. Bukan salah gue!' Dan itu terbawa sampai besar, sampai anak itu jadi artis terkenal atau pejabat atau apa pun."

Hmmmmmmmm....

Benar juga ya...

Jadi bagusnya gimana donk? Bagaimanapun kita kan orang Indo dan tinggal di Indo.

Ya iya sih, tapi seperti saya bilang tadi, kalau memang ada sesuatu yang baik, biarpun datengnya dari luar, kan gak ada salahnya dicangkok. Iya kan? Kertas aja pertama kali dibuat di Cina. Agama juga semuanya datang dari luar negeri. Bahasa Indonesia sendiri mencangkok kosa kata mulai dari bahasa Sanskrit sampai Belanda.

Lagian kalau bangsa ini tetep kekeuh gak mau ngaku salah (kalo memang salah lho ya), ya jadinya gak maju2, tetap seperti sekarang ini. Pejabat salah kekeuh gak mau mundur. Pengusaha bikin bencana alam cuek aja. Barang lokal kalah sama barang impor bukannya ngebenahin diri malah teriak2 minta proteksi. Gedung wakil rakyat diprotes lantaran kemahalan? Wakil rakyatnya malah bilang di koran: "Itu yang ngomong orang2 yang gak ngerti. Kalo gak ngerti gak usah ngomong. " Halo halo halo, orang Indo gini2 juga banyak yang jadi kontraktor lho, pastinya ngerti ongkos bikin gedung lah! Emang orang Indo bodoh semua?

Tulisan seorang Indonesia yang bangga jadi orang Indonesia, cinta Indonesia, tapi kadang2 malu sendiri sama kelakuan (gak semua lhoo) orang Indonesia.

***

Sabtu, Maret 05, 2011

Bagi Yang Mau Bikin Suvenir Kawinan

Category: Daily Life



I'm not a fan of expensive weddine souvenir. As a matter of fact I'm not a big fan of expensive wedding. Period.
Jangan salah ya. Sebenarnya saya suka wedding. Tapi bukan wedding gede yang ngundang ribuan orang, terus penganten-nya dipajang di depan kayak ondel2 dan ber-pegel-ria kudu nyalamain 2000-an tamu yang sebagian besar mereka gak kenal. Ya iyalah gak kenal wong sebagian besar tamu adalah rekan bisnis bapak-ibunya!
Ngelantur. Saya sebenarnya suka koleksi suvenir kawinan. Mulai dari sabun, lilin wangi, gelas, notes, boneka, coklat (buat dimakan sih, bukan disimpen), handuk, sumpit, dll. Hanya, saya tahu bahwa kebanyakan orang gak kayak saya, yang suka mengkoleksi dan memajang suvenir kawinan. Gak perlu jauh2, di kantor saja, kebanyakan suvenir kawinan rekan kerja nasibnya hanya teronggok di meja kerja mengumpulkan debu. Sayang banget. Padahal banyak di antara suvenir kawinan itu gak murah harganya.
Nah, hari ini kebetulan saya melihat foto suvenir kawinan yang lucu bin imut di fesbuk temen saya (semoga dia gak protes fotonya saya pinjem buat blog). Yaitu sepasang gantungan kunci nan lucu ini! Cute kan!
Nah, walaupun saya belum menikah, jadi belum pernah bikin suvenir kawinan, tapi sebagai veteran tamu acara wedding (bulan lalu saya hadir di 5 acara kondangan, padahal Februari bukan bulan yang terlalu panjang), saya merasa cukup terjustifikasi untuk bilang bahwa saya bisa memberikan beberapa poin bagi para calon mempelai untuk membuat suvenir wedding yang bakal bener dipakai oleh tamu, atau paling enggak dikoleksi dengan benar deh, gak digeletakin gitu aja di atas meja.
Fungsional
Gelas dan agenda mini. Suvenir standar yang hampir selalu digunakan oleh penerima karena memang merupakan barang keperluan sehari-hari. Gak unik sih, tapi daripada suvenir Anda akhirnya dicuekin saking uniknya sampe penerima bingung mau diapain itu barang?
Sebisa mungkin, not "another thing to dust"
Maksudnya, kalau bisa jangan berupa pajangan karena biasanya orang lebih suka membeli pajangan yang mereka pilih sendiri daripada pajangan yang memuat nama dan tnggal perkawinan orang lain. Kecuali suvenir Anda kebetulan luar biasa bagusnya. Lagipula pajangan bukanlah barang fungsional. Pajangan harus ditata dan dibersihkan dari debu (dusting), dan dengan sendirinya kecuali suvenir tsb betul2 sesuai selera penerima, biasanya suvenir pajangan secara menyedihkan (yang saya sering lihat sendiri) bakal berakhir di tong sampah. Tragis.
Nama pasangan dan tanggal kawinan jangan terlalu mencolok, tetapi sedikit kisah kasih Anda tidak mengapa
Penerima, biarpun temen sendiri, bisa rada ilfil menggunakan barang yang jelas2 dia peroleh secara gratis. Tapi saya pernah menerima hadiah gelas yang saya sangat suka karena dihiasi gambar kartun semi transparan yang menggambarkan episode kelahiran, pertemuan pertama pasangan, kapan mereka jadian, tunangan, lalu akhirnya menikah. Efek "cerita" tersebut membuat gelas menjadi lebih menarik, tidak melulu hanya tulisan nama pasangan dan tanggal pesta.
Suvenir yang gak perlu disimpan alias consumable
Misalnya coklat atau sabun. Benda2 ini bisa langsung dikonsumsi, jadi berguna dan tidak merepotkan penerima karena harus berpikir "Mau gue simpen di mana ya ini barang?" Apalagi kalau yang menerima adalah anak kos berkamar sempit yang tidak punya banyak tempat untuk menyimpan barang!
Karena itulah menurut saya contoh gantungan kunci di atas sangat bagus, karena design-nya sendiri manis, fungsional, bisa dikoleksi atau langsung dipakai, dan gak terlalu mencolok sebagai suvenir kawinan saat dipakai.
Mungkin Anda berpikir: "Kawinan gue ini, suka2 gue donk..." Memang sih, tapi bukankah akan jauh lebih menyenangkan kalau suvenir Anda diterima dengan suka-cita dan dipakai beneran daripada diterima ala-kadarnya kemudian dicuekin?
Lagian semakin banyak suvenir yang tidak terpakai dan terlantar atau terbuang, tidakkah itu akan menambah semakin banyak sampah di bumi kita tercinta ini?
Sangat menyedihkan bukan kalau sampah tersebut adalah suvenir hari terindah dalam hidup Anda?

Sabtu, Desember 25, 2010

Merry Christmas! Buon Natale! Feliz Navidad! Selamat Natal!

Category: Celebration

Christmas...
is not just about Christmas pudding...

or Christmas cookies & gingerbread house...


or even Santa Claus... (errrr, especially is Santa happens to be stucked on a tree like this with Rudolph hiding behind the tree branches...)



or the presents, the Snowman, or Christmas tree...


It's something more than that...

Much much more...


So, just like Celine Dion said in the all-time favourite "The Christmas Song", I'm offering you this simple phrase that has been said many times, many ways, in many parts of the world:
MERRY CHRISTMAS!
***

Sabtu, Desember 18, 2010

Dekorasi Natal Dengan Barang Sehari-Hari

Category: Decorating

Siapa bilang dekorasi Natal berarti harus ngibrit ke department store lantas memborong bola2 kaca warna-warni, boneka2 malaikat cantik dari kain berkilauan, patung2 Santa Claus yang berkilauan, hiasan pohon Natal yang bersinar-sinar bak kristal tertimpa cahaya dari bola lampu?

Ada cara yang lebih bersahabat untuk isi dompet dan untuk bumi kita. Gunakan barang2 sehari-hari.

Ya, betul. Gunakan barang2 kebutuhan se hari2 untuk dekorasi Natal. Tak percaya? Bisa dilihat dari post saya terdahulu tentang dekorasi Natal dengan barang bekas. Dan silakan lihiat gambar2 di bawah ini, yang diambil dari dekorasi Natal toko buku Aksara di Plaza Indonesia.

Bisa dilihat bahwa dengan menyusun buku2 dengan rapi berdasarkan jenis dan warna, kemudian mengelompokkan barang2 bernuansa merah, putih dan hijau, tercipta dekor Natal yang serasi dan tanpa perhiasan atau pajangan yang harus dibeli secara khusus di toko asesoris Natal. Paling ditambahkan pita2 merah dan rumbai2 hijau sebagai penyemarak. Hasil oke, modal minimal. :)


Apa saja yang digunakan sebagai centerpiece pada gambar di atas?
  • Kotak2 karton dibungkus kertas kado dan pita.
  • Toples2 yang diisi pelbagai benda berwarna merah: permen, kelereng, bahkan jepitan kertas.
Yang ini? Sama, namun dengan tambahan aneka alat tulis yang berwarna senada. Kuas2 cat dan pensil yang sangat biasa, ternyata bisa tampak cantik bisa disusun secara artistik. Bahkan lem2 kertas yang murah meriah, yang dulu sering saya pakai untuk bahan prakarya waktu SD, ternyata bisa menjadi hiasan Natal dengan kombinasi warna-nya yang ceria: botol plastik putih, tutup botol merah, label merek hijau-merah-putih. Siapa mengira pensil, kuas dan lem bisa menjadi pajangan Natal!



Ide yang sama, namun kali ini yang dipajang adalah kumpulan spidol merah. Saya bisa membayangkan kumpulan spidol warna-warni dalam stoples kaca bening, dan bahkan koleksi penghapus bisa menjadi hiasan yang unik. Hanya saja kali ini yang digunakan adalah warna Natal, bukan warna2 pelangi.

Ingat pulpen2 jadul dengan isi tinta merah dan hitam? Dan apabila saya kehabisan stoples, ternyata cangkir juga bisa dipakai.

Kreatif bukan?

***

Jumat, Desember 10, 2010

Dekorasi Natal Dengan Barang Bekas (Again....)

Category: Decorating

Deck the halls with boughs of hollies, fa la la la la la la la...


December is here! Berarti waktunya mengeluarkan pajangan2 Natal yang sudah setahun debuan dalam kardus.

Ini adalah beberapa inspirasi dekorasi Natal dari barang2 se hari2 dan barang2 bekas. (Pictures courtesy of my creative friend, initial C)

  • Pita2 bekas event kantor ternyata bisa di-recycle untuk melilit pegangan tangga dan menghias keranjang buku. Caranya gampang, tinggal pakai isolasi saja kok. Beres!
  • O iya, keranjang buku persegi dan bundar di foto. serta wadah nasi kaleng mungil dari kaleng merah juga bekas lho! Itu adalah wadah parcel Natal dari tahun lalu.
  • Sebagai alas mejanya ada taplak merah, emas dan putih. Itu terbuat dari kain2 sisa lho!
  • Lalu karangan pita merah dan emas yang dipasang di tangga juga bekas parcel.
  • Tatakan gelas warna-warni di bagian pojok kiri bawah dibuat dari potongan2 flanel bekas prakarya yang di tempel2 dengan lem uhu. Pola gambarnya cukup nge=print dari internet.

  • Pegangan pintu juga perlu dihias untuk Natal! Gantungan boneka salju ini juga sisa parcel beberapa tahun silam.
  • Boneka kijang Rudolph warna coklat dipakein syal tua merah-kuning yang sudah bolong sehingga tidak dipakai lagi.
  • Untuk menambah warna di sebelah boneka beruang bertopi Sinterklas, adalah kotak karton merah bekas permen coklat Lindtz.
  • Kotak coklat keemasan di sebelahnya? Bekas wedding souvenir. Pita hijau pengikatnya? Bekas bungkus permen coklat Ghirardeli!
  • Pita2 keemasan dekat kaki si boneka? Sisa dari parcel atau dipotong dari kartu2 undangan perkawinan. (Gosh, my friend! Kamu kayak pemulung yah! Tapi kreatif! Siapa juga yang kepikiran menyimpan potongan2 pita bekas untuk dekorasi!)

Ini basically adalah gabungan dari berbagai barang bekas yang kebetulan warna-warni cerianya cocok dengan tema Natal: merah, hijau, keemasan, dan silver.
  • Botol bekas bir Heineken sisa BBQ party
  • Toples2 kosong diisi segala macam benda yang berwarna cerah atau berkilauan, termasuk di antaranya kaleng bekas permen!
  • Kotak2 krem berhias pita merah yang didapat sebagai wadah wedding souvenir.
  • Paperbag Starbucks warna merah bergambar orang2an. Di dalamnya diisi tissu paper yang nongol di bagian atas. Tissu paper yang beli di toko yah? Hohoho.... Enggak! Itu adalah tissu paper bekas... dos sepatu! Tau kan kalau beli sepatu baru di dalam kardusnya suka ada tissu paper...
  • Pita2 yang diikatkan dan diserakkan di sana-sini? Ahem... Itu adalah pita2 sisa parcel, potongan dari baju anak2 yang sudah tidak dipakai lagi, pita bekas pembungkus kado, wedding souvenir, pita bungkus cemilan, pita penghiasan undangan kawinan, sampai pita hijau dan keemasan bekas ketupat yang menghias parcel Lebaran! Yup, karena warna pitanya ijo, bisa dipakai baik saat Lebaran maupun Natal! Teman saya ini mengumpulkan segala macam "sampah" tersebut dalam sebuah kantong bergambar bunga2 cantik (yang juga bekas), siap dikeluarkan di saat perlu. Jadi biarpun "mental pemulung", tapi gak bikin berantakan!

Hmmmm... rasanya mulai sekarang saya juga akan rajin jadi pemulung... Siapa sangka kombinasi barang2 bekas bisa diatur sedemikan rupa menjadi pajangan yang cantik.

Thanks for sharing your frugal creativity, C!

***

Selasa, November 30, 2010

Wow! Dekor Rumah Dengan Barang Bekas

Category: Decorating

Beberapa hari yang lalu, saya main ke rumah teman. Teman saya ini sama kayak saya: single dan tinggal sendiri. Bedanya, saya tinggal di kamar kos, dia tinggal di satu rumah dinas yang dipinjamkan perusahaan tempatnya bekerja.

Teman saya ini sangat “perempuan sekale”, baik dalam penampilan maupun kerapihan. Rumahnya, walaupun bukan milik sendiri, tertata dengan apik. Dan yang paling bikin saya kagum adalah, ketrampilannya untuk melakukan interior decorating without interior decorating. Lho?

Maksud saya, dia sangat kreatif dan pandai memanfaatkan barang2 di sekitarnya untuk menghias rumah. Dia tidak banyak membeli barang2 secara khusus untuk pajangan, melainkan menata barang2 yang dia miliki, hadiah dari teman2nya, dan yang paling sip: teman saya ini mempunyai knack tersendiri untuk menempatkan dan mengatur barang2 keperluan se hari2 – seperti buku, toples, keranjang, cangkir, boneka, dll – sedemikian rupa sehingga hasilnya tidak kalah asri dibanding apabila ia menghias rumah dengan barang2 pajangan yang khusus dibeli di toko. Dan lebih unik lagi, banyak benda2 ini berupa barang bekas yang ia peroleh dengan gratis!

Contohnya table centerpiece ini, yang ia buat khusus untuk acara Thanksgiving BBQ. Boneka2 nya pinjaman dari saya sih, tapi keranjang-nya ia dapatkan dari parcel Harvest yang dikirim ke kantornya. Alih2 membeli keranjang khusus di toko container, dia membawa pulang wadah tersebut dan menemukan berbagai cara untuk memanfaatkannya.

Kalau sedang tidak dibikin centerpiece, dia menggunakan keranjang bundar tsb untuk tempat para tamu menaruh kunci mobil, HP, dll, sehingga tidak berantakan di meja. Sedangkan keranjang buku di sebelahnya juga bekas wadah parcel. Dari gambar bisa dilihat bahwa ternyata menata beberapa buku bersampul menarik di dalam keranjang bisa menambah semarak meja makan. Teman saya ini berencana melapisi pinggiran keranjang yang coklat polos dengan pita2 pink. “Tetapi rencana tinggal rencana. Sampai sekarang masih gak sempat!” kisahnya sambil tertawa.

Surprise! Ternyata vas bunga ini bukan vas bunga, melainkan cangkir suvenir waktu membeli produk biskuit Oreo. Tuh, masih ada tulisannya. O-R-E-O.

Yang ini lain lagi. Toples2 beling ini adalah merchandise gratisan dari TransTV. Teman saya yang sangat kreatif mencuci bersih toples2 tsb kemudian mengisinya dengan selotip hias warna-warni. Toples yang kecil dia isi dengan kaleng sisa permen Starbucks. “Sebenarnya yang bagus sih diisi kelereng atau batu warna-warni, tapi karena gak punya ya diisi apa saja yang warna-warni dan eye catching, “ terangnya. Di sekitar toples2 tsb, ia menggabungkan hiasan patung kecil2 dengan kaleng bekas teh warna merah bergambar putri Cina, dan botol beling bekas minuman bergambar oranye dan ungu. Dengan sedikit kreativitas, barang2 yang biasanya berakhir di tempat sampah itu berhasil disulap menjadi pemanis rumah.

Untuk meja sudut ini, teman saya mengaku tidak mempunya pajangan yang cocok untuk menemani pot bunga anggrek yang dimilikinya. Untuk menghindari kesan kosong, ia menaruh boneka beruang souvenir acara ulang tahun anak temannya. “Karena sudut ruangan terkesan agak suram, warna biru terang baju boneka ini menambahkan sedikit kesan ceria, biar di pojok sini ada kesan warna yang “hidup”. Bagusnya ditaruh patung kristal kali ya, tapi gw ga ada budget buat beli kristalnya.” Perhatikan bahwa teman saya juga memajang jam weker model antik yang sudah tidak bisa dipakai lagi karena rusak. Jam meja keramik di belakang boneka adalah hadiah dari Telkomsel dan juga sudah tidak berfungsi lagi, tetapi ternyata bisa dimanfaatkan sebagai pajangan.

Di sekeliling rumah bertebaran pelbagai sentuhan artistik yang kreatif (dan murah meriah!) dari teman saya untuk mempercantik tempat tinggalnya. Dengan budget ala kadarnya. Semuanya barang se hari2. “Gw tidak suka nyampah dan membeli barang2 pajangan khusus yang membikin bangkrut. Jadi gw berusaha memanfaatkan barang2 se hari2 sebagai pajangan. Misalnya untuk lap pengering tangan di sebelah wastafel, gw memilih yang bermotif dan berwarna cerah. Lalu sabun cuci tangan, daripada gw khusus beli wadah sabun yang mahal, mendingan gw beli merk ini yang wadahnya berbentuk beruang. Gw juga berusaha menyimpan barang2 kecil seperti teh, kopi, gula dll dalam wadah2 kaleng bekas yang menarik. Temen2 gw di kantor semua tahu kalo gw suka koleksi kaleng bekas yang lucu2. “ ceritanya.

Lalu perhatikan meja tamu ini. Taplaknya adalah sepotong pashmina! Sebagai centerpiece teman saja memajang boneka Snoopy dan tungku aromaterapi. "Daripada boneka gw cuma ngendon di lemari, mending gw buat pajangan. Terus tungku aromaterapi itu gw beli di toko 5000-an." Wow!

Hari itu saya pulang dengan segudang ide di kepala. Ternyata mendekorasi rumah tidak harus mahal!

***

Selasa, November 23, 2010

When I'm Sick...

Category: Feelings & Thoughts

Paling sedih jadi orang yang tinggal sendirian kalo lagi sakit...

Minggu lalu saya sakit. Gak parah sih, tapi demam yang lumayan tinggi sempat membuat saya - seperti biasa kalo lagi sakit - sempat merasa jadi manusia termalang di dunia. Sediiiihnya tinggal sendirian pas lagi sakit. Bodo amat meng agung2kan kedewasaan, kemandirian, gaya hidup bebas orang muda di kota besar. Rasanya saya pengen nangis keras2 dan memanggil: "Mamiiiiiiiiiiiiih.... tuoluooooooongggg...."

Untung saya cepat sembuh sehingga episode dangdut cengeng di tengah kamar kos yang sempit itu pun tidak terlampau ber larut2. Sekarang saya sudah sehat lagi. Hore !!! Bisa jalan2 lagi. Hore !!! Bisa nonton Harry Potter. Hore !!! Bisa masuk kerja lagi. Ho... Eh, kalo yang ini gak hore2 amat sih, hehehe...

Se sedih2nya pengalaman sakit saat tinggal sendirian, tetap ada lho satu hal yang membuat saya teramat sangat bersyukur pada saat itu. Apakah gerangan?

Delivery pizza, delivery ayam goreng, delivery chinese food, dan segala macam jasa antaran makanan yang lain.

Sebagai anak kos yang tinggal sendiri, boro2 ada mama yang masakin kalo saya lagi sakit. Tetap saja saya kudu mengurus makanan saya sendiri. Beruntung bahwa karena naluri bisnis manusia yang mengatakan azas bahwa "ada gula ada semut, ada anak kos yang butuh makan delivery pasti laku - hampir semua, atau malah semua, restoran besar, sedang maupun kecil yang subur bertebaran di sekitar daerah kos saya menyediakan jasa antar makanan mulai dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam. Jadi selama sakit saya tidak perlu me rayap2 turun ke dapur untuk memasak indomie-lagi-indomie-lagi. Cukup pencet nomor di HP ke Pizza Hut, KFC, MacD, Rumah Makan 88, 55, dan restoran Chinese food lainnya, dan - voila! - 30 menit kemudian makanan pun diantar sampai ke depan pintu kamar. Thank God for food delivery services!

Tapi kan itu semua fast food gak sehat.... Ya emang sih. Tapi daripada gak makan? Daripada makan indomie 3 hari ber turut2? Hayoooo... Gak semua di antara kita cukup beruntung dirawat oleh mama saat sedang sakit. Mama saya malah gak tahu kalau anak perempuannya lagi mewek2 di Jakarta karena sakit. Saya sengaja tidak memberitahu supaya beliau tidak cemas.

Sesudah 2 hari mengandalkan hidup kepada jasa antar makanan, pada hari ke-3 cash saya ludes. Beruntung Pizza Hut menawarkan pembayaran dengan credit card bahkan untuk pesanan delivery. Kalo enggak, bisa2 hari ke-3 saya gak makan! Males bener lagi sakit begini keluar dulu nyari ATM baru bisa delivery makanan!

Aaaaaaaah.... Indahnya hidup. Bahkan dalam kegelapan ternyata masih ada setitik sinar terang. Hihihi...

***